Menu

Ekonomi Islam di Era Pasar Global ASEAN

Oleh Prof. Dr. H. Muhamad, M.Ag.

Pemberlakuan pasar bebas ASEAN atau yang biasa dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sudah berlangsung sejak akhir 2015 lalu. Ada yang menyonsong MEA dengan optimistis, namun tak sedikit pula publik tanah air yang pesimistis merespons diterapkannya liberalisasi pasar ASEAN ini.

Pesimisme publik tanah air terhadap MEA, ini bisa dipahami. Sebab, sejak MEA resmi diberlakukan, maka pasar Indonesia akan dibanjiri oleh produk-produk dan tenaga kerja asing yang berasal dari berbagai negara ASEAN.

Bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi MEA sebenarnya? Banyak tantangan yang mesti dihadapi dengan diberlakukannya kesepakatan pasar bebas ASEAN. Antara lain mind-set masyarakat, khususnya pelaku usaha Indonesia, yang belum seluruhnya mampu melihat MEA 2015 sebagai peluang. Ini lantaran kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai ASEAN masih sangat terbatas.

Selain itu, lemahnya Infrastruktur, khususnya bidang transportasi dan energi, menyebabkan biaya ekonomi tinggi, utamanya sektor produksi dan bagi pasar. Belum lagi terbatasnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk mendukung produktivitas nasional, serta birokrasi yang belum efisien dan belum sepenuhnya berpihak pada pebisnis.

Akan tetapi, selain berbagai tanta-ngan yang ada, ada kekuatan yang dimiliki Indonesia menghadapi MEA ini. Dari seluruh anggota ASEAN, misalnya, pertumbuhan ekonomi tertinggi dialami Indonesia yaitu sebesar 6,4% % (Bank Dunia 2011), berada pada urutan ketiga di Asia, setelah China dan India. Kelas menengah (middle class) Indonesia juga terus meningkat. berdasarkan catatan Bank Dunia, dari yang tadinya sebesar 37,7% pada 2003, menjadi 56,6% pada 2010 atau mencapai 134 juta jiwa.

Selanjutnya, Debt to GDP Ratio (Rasio Hutang terhadap PDB) Indonesia juga cukup rendah dibanding negara-negara ASEAN lain, yaitu 24% (2011). Itu sebagai salah satu indikator membaiknya makro-ekonomi.

Kekuatan lain yang dimiliki dalam menghadapi MEA, peta usia penduduk Indonesia yang cukup muda serta Sumber Daya Alam (SDA) yang besar dan pasar yang besar untuk mendukung produktivitas nasional (pulling factor).

Karenanya bisa dilihat, bahwa tantangan-tantangan yang muncul di MEA, pada sisi lain sebenarnya juga membuka peluang-peluang ekonomi. Pasar ASEAN yang mencapai 600 juta, adalah peluang pasar yang sangat besar, belum lagi jumlah kelas menengahnya yang kian meningkat.

Menurut catatan Asian Development Bank (ADB), kelas-menengah ASEAN berjumlah 24% pada 2010 dan akan mengalami peningkatan hingga 65% pada 2030. Perdagangan intra-ASEAN juga cenderung meningkat.

Indonesia memiliki potensi pengembangan industri nasional untuk didorong agar menjadi production base di kawasan dengan ditopang pasar domestik yang besar, penduduk usia muda/produktif, investasi yang meningkat dan SDA yang besar.

Peluang Ekonomi Islam 

Sistem ekonomi syariah (Islam) hingga saat ini, diakui atau tidak, belum banyak dilirik oleh kalangan masyarakat. Pasalnya, sistem ekonomi ini belum mampu memberikan solusi atas pemenuhan kebutuhan manusia secara memuaskan.

Padahal jika mau menelaah secara mendalam, maka sistem ekonomi Islam memiliki tujuan yang sangat komplet, yakni hifz al-din (menjaga agama), hifz al-nafs (menjaga jiwa), hifz al-aql (menjaga akal/ pikiran), hifz al-nasl (menjaga keturunan), dan hifz al-mal (menjaga agama).

Dengan tujuan mulia itu, sistem ekonomi Islam memiliki peluang yang besar untuk mengambil peran dalam pembangunan ekonomi di tanah air, tak terkecuali di era MEA ini. Kehadirannya memberikan peluang sekaligus tantangan bagi perekonomian Indonesia, tak terkecuali industri keuangan syariah (Islam).

Tetapi harus diakui, tidak mudah mengembangkan keuangan syariah Indonesia untuk bersaing dan beroperasi lintas negara ASEAN, mengingat industri keuangan syariah Indonesia merupakan pendatang baru diban-dingkan dengan Malaysia, misalnya, yang sudah lebih dulu mengembangkan keuangan syariah.

Belum lagi, keuangan syariah di negeri ini masih menghadapi berbagai kendala yang bisa menjadi penghambat pengembangan keuangan syariah ke depan. Pertama; pangsa pasar yang masih kecil. Market share perbankan syariah Indonesia yang relatif masih kecil, adalah penghambat dalam menghadapi MEA. Perbankan syariah per Maret 2015 sebesar 37,8 % dengan total aset mencapai Rp. 214,5 triliun.

Namun, market share industri perbankan syariah baru menembus 4,9% dari total aset industri perbankan hingga 2015. Pangsa pasar perbankan syariah ini masih tertinggal jauh dibandingkan dengan pangsa pasar industri perbankan konvensional sebesar 95,1 %.

Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan market share perbankan syariah ini, adalah dengan memperkuat permodalan dan melakukan konversi Bank Umum Milik Negara (BUMN) menjadi bank syariah. Terobosan ini akan mendorong pangsa pasar perbankan syariah menjadi lebih besar.

Kedua; pengembangan produk. Tidak sedikit masyarakat berpendapat, produk-produk yang ditawarkan oleh industri keuangan syariah tidak jauh berbeda atau sama saja dengan produk keuangan konvensional.

Dampak dari adanya pandangan tidak ada bedanya produk keuangan syariah dengan produk yang ada di keuangan konvensional, yaitu timbulnya stigma negatif di kalangan masyarakat, bahwa keberadaan industri keuangan syariah tak lain adalah konvensional yang dibungkus dengan kata syariah.

Pesimisme masyarakat terhadap industri keuangan syariah ini sangat beralasan, karena produk yang ditawarkan kurang inovatif dan terbatas. Padahal untuk mendorong keuangan syariah, Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2011 telah mengeluarkan regulasi kepada bank syariah berupa aturan boleh meluncurkan produk baru, dan bank lain tidak boleh meniru produk yang dikeluarkan selama dua tahun.

Regulasi dari BI ini merupakan angin segar dan peluang besar bagi keuangan syariah untuk mempromosikan produk-produk unggulannya. Aturan ini juga memberikan ruang yang sangat lebar bagi keuangan syariah di tanah air agar bisa bersaing, baik di dalam maupun di level ASEAN.

Ketiga; krisis SDM berkualitas. Pro-blem SDM, khususnya di tubuh keua-ngan syariah, merupakan masalah klasik yang belum sepenuhnya teratasi hingga kini. Ini sangat memprihatinkan, karena masa depan industri keuangan syariah sangat bergantung pada pemenuhan SDM yang benar-benar berkualitas.

Fakta di lapangan menyebutkan, setiap tahun industri keuangan syariah membutuhkan SDM kurang lebih 11.000. Sementara lembaga pendidikan saat ini, hanya mampu menutupi kebutuhan SDM itu sekitar 3.750 per tahun.

Di sini terjadi ketimpangan antara permintaan pasar dengan SDM yang tersedia. Akhirnya, untuk memenuhi SDM sebesar 11.000 itu dilakukan de-ngan cara memberikan training kepada SDM konvensional yang kemudian disa-lurkan ke lembaga-lembaga keuangan syariah.

Krisis SDM ini perlu mendapatkan penanganan yang serius dari semua pihak, terutama pemerintah dan kala-ngan lembaga pendidikan, untuk menciptakan SDM-SDM yang siap pakai, kreatif da inovatif. SDM berkualitas adalah kunci bagi masa depan keua-ngan syariah di Indonesia.

Di era MEA, SDM yang berkualitas akan menjadi penentu apakah keuangan syariah mampu bersaing atau tidak di tingkat ASEAN. Dan untuk melahirkan SDM siap pakai sesuai kebutuhan pasar, calon karyawan atau bankir harus menguasai dua disiplin ilmu sekaligus, yaitu ilmu ekonomi konvensional dan memiliki pengetahuan syariah yang memadai.

Jika dua keilmuan tersebut tidak bisa dipadukan, bisa dipastikan perkemba-ngan industri perbankan syariah, bisa menemui kendala yang sangat serius. Untuk itu, perlu peran pemerintah, akademisi, praktisi, ulama’ dan masyarakat mesti bersatu dan bergandeng tangan memperbaiki berbagai kendala yang dihadapi keuangan syariah tersebut.

Jika ini bisa dilakukan, maka Indonesia tidak perlu pesimistis mengahadapi MEA. Industri keuangan syariah Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN, bahkan bisa menjadi pemain utama di pasar tunggal ASEAN. Wallahu a’lam. (*)

 

Prof. DR. H. Muhamad, M.Ag.,

Pakar ekonomi syariah dan dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06984065
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
284
958
4321
6966130
5247
36605
6984065

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-06 07:43:26

Kami memiliki 18 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top