Menu

Memahami Bumi Muria

Oleh Mochamad Widjanarko

Tidakkah kita mengetahui, bahwa tanah yang kita pijak ini, masih termasuk dalam wilayah administratif tiga kabupaten Kudus, Jepara dan Pati yang sekaligus merupakan kaki Pegunungan Muria?

Tidak bisa dimungkiri, secara geografis administratif, Muria memang terbagi atas tiga kabupaten tersebut. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang lain, geologi, misalnya, maka petanya tidaklah sama dengan peta administratif.

Sebagai sebuah kawasan yang diyakini sebagai formasi pegunungan, Muria memiliki bentang yang berbeda dengan kawasan di daerah bawah pegunungan tersebut. Beberapa pendapat meyakini, sejarah geologis Muria merupakan lanskap yang terpisah dengan Pulau Jawa--sebuah pulau tersendiri dengan selat yang memisahkan (Step, 2013).

Dari sisi sejarah geologinya, Muria pada abad VIII terpisah dari Pulau Jawa dan memiliki Selat Muria. Pada abad IX, wilayah daratan Kudus mulai terbentuk, bersamaan mulai berkembangnya kerajaan Mataram kuno.

Prediksinya, arah sedimentasi yang terus menerus dari Pulau Jawa melalui pendangkalan sungai-sungai yang mengalir ke arah selat yang menghubungkan kedua pulau pada waktu itu, dengan kecermatan sedimentasi 30 meter per tahun, sehingga lama kelamaan selat tertutup dan kemudian menjadi daratan hasil proses sedimentasi (Van Bemmelen, 1949).

Tanah Muria yang kita pijak, telah memberikan kehidupan. Air yang berasal dari sumber berhulu di Pegunungan Muria, kita cecap sehari-hari dengan beragam aktivitas, seperti mandi, minum, memasak, menyirami tanaman, mencuci pakaian dan alat rumah tangga.

Mungkin ada yang memungkiri, bahwa air yang diminumnya dibeli dalam bentuk kemasan, hingga berlangganan air dan tidak mencuci di rumah tetapi memakai jasa binatu. Itu adalah gaya hidup, dan tetap saja air yang ada di tanah kita berpijak, secara tidak kita sadari, telah memberi kontribusi. Binatu menggunakan air sumber tanah Muria, air sumber Muria juga diperjualbelikan dalam bentuk tangki mobil yang akhirnya menjadi air kemasan.

Tanah, air, udara, satwa dan pepohonan serta bentang alam yang ada di Pegunungan Muria, telah memberikan kontribusi bagi manusia dan aneka ragam hayati. Berbagai aktivitas manusia yang berhubungan dengan alam telah terjadi sejak lama: bertani, berkebun, sampai ‘memeras’ Muria, mematikan rasa dengan menjual apa saja yang bisa dijual, baik itu burung khas Muria, air, pasir, bebatuan, dan kayu.

Perilaku individu, tidak terlepas dari pemahaman bahwa manusia ada untuk melakukan daya upaya pelestarian, berguna dan bermanfaat bagi alam sekitarnya. Jika individu memiliki perilaku merusak alam, maka pemahaman sebagai manusia menjadi ‘pecah’, tidak utuh.

Dengan bahasa lain, sosok seperti ini bisa dianalogikan sebagai individu yang memiliki keimanan pada Tuhan, tetapi ‘’membelakangi’’ Tuhannya dengan merusak alam ciptaanNya yang seharusnya di jaga. Pada dasarnya, pelestarian lingkungan di bumi, tak terkecuali di Muria, merupakan perbuatan baik dan pemahaman atas melakukan perbuatan baik itu jangan dipahami secara sempit, seperti melakukan kebaikan di  tempat ibadah.

Sebab, ibadah itu multidimensi. Membuang sampah pada tempatnya adalah ibadah. Dan orang yang mengambil kayu atau menjual air sebagai sumber kehidupan, berburu satwa yang dilindungi, adalah bagian dari tindak pencurian yang tentu dilarang oleh keyakinan apapun.

Mari jaga perilaku kita dan membangun perilaku yang pro-lingkungan, dengan menjadi bagian dari kelompok yang berkomitmen untuk melestarikan lingkungan, bukan sebaliknya mengekploitasi membabi buta dan merusaknya. (*)


Mochamad Widjanarko
Staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, sedang melakukan studi Kawasan Muria untuk Disertasi.

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06984084
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
303
958
4340
6966130
5266
36605
6984084

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-06 07:59:50

Kami memiliki 20 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top