Menu

Menulis yang Mentakwakan: Sebermula dari Tempat Berpijak

Oleh Raudal Tanjung Banua

Pada hakikatnya, semua pekerjaan yang baik dengan niat yang baik serta pelaksanaan yang baik, bisa membawa seorang hamba ke jalan taqwa. Dunia tulis-menulis, khususnya sastra, saya yakini juga demikian, betapapun penilaiannya hanya Allah yang tahu. Akan tetapi, apa yang saya bayangkan tentang menulis dan ketaqwaan (atau seturut panitia kegiatan ini “menulis yang mentakwakan”) tidak serta-merta membawa ingatan saya pada urusan “langit”, namun justru urusan “bumi”, tanah tempat berpijak ini.

Itu artinya, selepas niat dan basmallah,  dunia tulis-menulis lalu akan berhadapan dengan teknik, konvensi dan aturan-aturan dunia kepenulisan itu sendiri, yang konkret, dan itulah yang mesti dihadapi oleh seorang penulis dalam proses kreatifnya. Ya, dalam upaya penciptaan (dengan “p” kecil), seorang penulis mesti berhadapan dengan bahan dan teks, bergulat dalam kesungguhan dan kerja keras, dengan kejujuran dan etos kerja.

Butuh referensi, observasi, penelitian, wawancara pada tingkatan bahan; perlu eksplorasi, eksprimentasi dan penguasaan teknik yang baik dalam pengolahan bahan. Upaya-upaya “konkret” ini, disadari atau tidak, sebenarnya telah menuntun seorang penulis ke jalan ketaqwaan, secara wajar dan semestinya. Berdoa dan bersyukur tentu juga bagian dari tindakan yang “konkret”, namun upaya yang bersungguh-sungguh dan kerja keras, tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan doa-doa yang dipanjatkan.

 Itulah sebabnya, di dalam sastra Indonesia, wacana tentang sastra dan relegiusitas, tidak secara langsung merujuk teks-teks yang dipenuhi nama tuhan atau memakai atribut agama dan kepercayaan, juga tidak dengan istilah-istilah keagamaan yang padat. Emha Ainun Nadjib misalnya menganggap bahwa sastra trensenden itu adalah sastra yang memiliki kiblat sosial yang teguh dan meyakinkan. Begitu pula YB Mangunwijaya menganggap sastra dan relegiusitas itu berhubungan dengan sikap sosial pengarang, tanggung jawabnya pada masyarakat dalam memberi pencerahan.

Istilah-istilah lain terkait dengan wacana “sastra & relegiusitas”, seperti sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra sufi (Abdul Hadi WM), dan sekarang ada “sastra yang mentakwakan”, niscaya juga tidak secara ujug-ujug menggeneralisasi wujud teks selayaknya “kitab kuning”, apalagi “kitab suci”. Itulah yang misalnya tampak pada karya-karya Kuntowijoyo, yang melihat dunia keseharian masyarakat Jawa dengan segala kulturnya yang unik, namun memancarkan kesederhanaan dan kesalehan sosial.

Tak heran, Kuntowijoyo tanpa sungkan menulis kisah-kisah masyarakat urban dan pedesaan Jawa yang percaya klenik, sinkretik, tahyul dan mitos; namun sekaligus dengan itu menghadirkan pula sikap welas-asih, gotong-royong dan kebersahajaan. Dari sana muncullah tokoh protogonis-antagonis, pertentangan yang memancing konflik, kemudian menawarkan alternatif-alternatif berupa jalan ke luar, kesadaran serta kearifan—betapapun tidak dinyatakan secara verbal, cukup dengan bahasa yang sederhana tapi bermakna. Lewat pengejewantahan sikap tersebut, tanpa perlu ribut-ribut, Kuntowojoyo telah menjadikan hidup sehari-hari masyarakatnya sebagai latar/setting  novel dan cerpen-cerpennya; para tokoh sebagai wujud perwatakan yang hidup; konflik dan jalan ke luar sebagai plot/alur; dan kesederhanaan sebagai bahasa ungkap yang mendukung keutuhan cerita.

Semua yang disebutkan itu adalah merujuk konvensi atau unsur instrinsik prosa (cerpen/novel): latar/setting, watak/karakter, plot/alur dan gaya bahasa. Hanya dengan menguasai konvensi itu secara baik dan benar, seorang Kuntowijoyo berhasil melahirkan karya-karya bermuatan sosial, tapi sekaligus mengandung sikap profetik yang kental. Lewat persfektif atau cara pandang yang pada hakikatnya relegius, Kuntowijoyo menunjukkan kepada kita bahwa dunia sinkretik masyarakatnya pada akhrinya berujung pada kesadaran mencari kebenaran yang lebih hakiki. Tesis memunculkan antitesis.

Itu pula yang terjadi pada Abdul Hadi yang banyak menulis dan meneliti dunia tasawuf, namun tidak secara “hitam-putih”. Ia melihat berbagai kemungkinan dari pencarian seseorang atau masyarakat; tidak satu jalan menuju kebenaran, meskipun pada tingkatan iman yang lebih personal, hanya ada satu kebenaran yang mutlak. Namun kebenaran yang diyakini itu tidak dipaksakan masuk ke dalam teks-teks puisinya, sebab jika itu ia lakukan maka puisinya akan jatuh sebagai diktat, khotbah atau risalah moral.

Maka Abdul Hadi mencoba mengapresiasi dan menginterpretasi ulang fenomena, gejala, peristiwa dan pencarian seseorang. Tak heran, dalam puisi-puisi sufistiknya, ia tak hanya mengunggah sosok dan pemikiran Rumi, Omar Khayam atau Amir Hamzah, namun juga mengusung sosok kontraversial seperti Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, bahkan Jaya Katwang. Lewat respon dan tafsir ulang atas ajaran yang oleh sebagian pihak dianggap sesat, Abdul Hadi justru mengajak kita untuk merenung sedalam-dalamnya, memetik mutiara pelajaran dari sana.

Sederet contoh lagi bisa dibentang dari pengarang yang dianggap memiliki keterkaitan dengan sastra transenden, mulai dari karya A.A. Navis, Danarto, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, A.Mustofa Bisri, Emha Ainun Nadjib, Taufiq Ismail, Fadoli Zaini, Ahmad Nurullah, dan seterusnya. Karya mereka tersebut tidak disangsikan lagi komitmen dan keberpihakannya pada nilai-nilai ketuhanan, namun sekaligus dengan itu nilai-nilai sosialnya sangat kental.    

Maka jelaslah, mutu sastra ketuhanan tidak berbanding lurus dengan penamaan dan penyebutan, katakanlah “sastra islami”, “sastra pesantren”, atau embel-embel “novel pembangun jiwa” dan seterusnya. Keberpihakan pada bumi berpijaklah yang membuat seorang penulis/pengarang sekaligus bisa dengan lempang menjunjung langit keilahian.  

***

Apa yang saya kemukakan di atas menunjukkan bahwa “menulis yang mentakwakan” selain bersifat vertikal, juga bersifat horisontal: menulis untuk sesama, komunitas atau masyarakat. Itulah sebabnya dunia kalam tidak terikat secara konvensional atau langsung dengan pernyataan transenden (karena bisa verbal), namun menyusup dalam nilai-nilai kemanusiaan melalui simbol, lambang, metaofra, gaya bahasa, persfektif dan seterusnya.

Secara fungsional, dunia menulis juga berkaitan dengan beragam profesi, seperti wartawan, penulis biografi, skenografer, penyunting/editor, penerjemah, sampai pada penulis pidato dan periklanan. Karena itu jenis-jenis tulisan itu luas sekali cakupannya dan banyak bagiannya. Secara garis besar: FIKSI (SASTRA) dan NON-FIKSI.  Fiksi meliputi berbagai genre sastra: cerpen, puisi, novel, novelet, drama. Non Fiksi: berita, feature, opini, esei, biografi, dan seterusnya.

Salah satu profesi yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis adalah jurnalistik. Agak berkebalikan dengan sastra yang dianggap dekat dengan “langit” (bisa berarti awang-awang, imajinasi, bisa pula profetik), dunia jurnalistik disadari atau tidak terasumsikan sebagai “dunia bawah” (bisa berarti akar rumput, liberal, industrial, faktual). Tema seminar “Menulis yang Mentakwakan” ini sangat cerdik mengajak kita untuk mengubah paradigma yang ada selama ini. Bahwa dunia jurnalistik yang memang dominan dengan fakta lapangan, dihidupi oleh industri media, serta kenyataan-kenyataan lain yang menjadi kodratnya, sebenarnyalah memiliki dimensi transendensi yang tinggi.

Upaya mencapai nilai tersebut hanya mungkin dilakukan melalui niat baik, etos kerja yang baik, komitmen yang kuat, dan lebih dari itu, kemampuan menguasai teknik yang berkaitan dengan dunia jurnalistik itu sendiri. Pendek kata: menulis sebagai jalan taqwa, adalah menulis dengan kesungguhan dan ketulusan—popularitas, penghargaan, dan lain-lain adalah bonus atau efek samping!

Secara spesifik, dunia jurnalistik menjadikan seorang wartawan berhadapan langsung dengan fakta-fakta sosial di sekitarnya. Ini pula sesungguhnya yang dialami oleh penulis fiksi (sastra). Keduanya memang memiliki sejumlah kesamaan, sekaligus sejumlah perbedaan. Ini sama menariknya dengan membicarakan sastra dan sejarah maupun sastra dan filsafat. Watak dasar sastra adalah fiksi, sedangkan jurnalistik fakta.

Akan tetapi bukan berarti sastra tanpa fakta, dan bukan berarti pula jurnalistik tidak memerlukan “sentuhan” fiksi. Fakta di dalam fiksi, dapat dijadikan rujukan tema, inspirasi, dan sumber cerita. Melalui perangkat konvensi dan unsur-unsur intrinsik/ekstrinsik, fakta tersebut diolah sedemikian rupa sehingga menjadi peristiwa tersendiri, dunia sendiri, yang berbeda dengan fakta yang ada.

Novel Tenggelamnya Kapal Vander Wijk dalam karya Hamka, misalnya, memang benar ada kapal yang tenggelam bernama sama di lepas pantai Lamongan; namun Hamka mengambil itu sebagai salah satu fakta yang kemudian menghubungkannya dengan perjalanan tokoh-tokohnya lewat plot cerita yang berdiri sendiri.

Novel-novel Pramoedya Ananta Toer berangkat dari kesadaran nasionalisme awal abad ke -19 di Hindia-Belanda dan rangkaian peristiwa tersebut memang benar-benar ada; tapi bagaimana dengan Minke atau Nyai Ontosoroh, itu merupakan gubahan Pram. Novel Ladang Perminus Ramadhan KH bercerita tentang korupsi Pertamina. Cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam Saksi Mata bercerita tentang kehidupan masyarakat Timor-Timur ketika berada dalam konflik senjata. Puisi “Ayat-ayat Arloji” Sapardi Djoko Damono berangkat dari peristiwa terbunuhnya Marsinah. Begitu pula fakta-fakta penggusuran, korupsi, kecelakaan, bencana alam, dan lain-lain yang banyak hadir dalam karya fiksi.

Sebaliknya, fakta-fakta di dunia jurnalistik dihadirkan sebagai fakta itu sendiri, terutama dalam berita. Di sini ada peristiwa, ada narasumber, ada konfirmasi, dan sebagainya sehingga sebuah berita tetap sebagai fakta, sekalipun cara penyajian berita masing-masing media dapat berbeda sense dan angle-nya. Begitu pula dalam tajuk rencana (induk karangan) dan opini yang ada di sebuah media, menyajikan fakta sebagai fakta yang kemudian dijalin dengan gagasan apakah berupa jalan ke luar, alternatif tawaran, harapan atau kritikan. Begitu pun “Surat Pembaca” menyajikan data dan fakta yang sebagaimana adanya.

Akan tetapi ada pula produk jurnalistik yang menggunakan unsur-unsur sastrawi sebagai penyampai fakta, misalnya feature, suatu liputan khas atas sebuah peristiwa, tempat, capaian, fenomena dan sebagainya, namun disajikan tidak secara “telanjang” melainkan memakai kaidah-kaidah sastra, misalnya ada alur/plot, ada tokoh, ada latar/setting, dan seterusnya.

Belakangan, produk jurnalistik (berita, tajuk rencana, opini, surat pembaca) kian berdekatan dengan sastra sehingga lahirlah apa yang dinamakan jurnalisme sastrawi, di mana dalam penyajian fakta di berbagai produk jurnalistik tidak lagi “kering” dan “garing” namun dibuat semenarik mungkin, bukan hanya pada tingkatan judul danlead, namun juga berita itu sendiri. Kalau kita baca berita di Kompas atau Koran Tempo, misalnya, enak dibaca karena memang tersaji dengan sentuhan sastrawi,  lihat saja misalnya berita olahraga/sepakbola. Apalagi berita di majalah mingguan seperti Tempo dan Gatra. Begitu pula dalam gerakan jurnalisme, muncul partisipasi warga dalam apa yang disebut jurnalisme warga (citizen jurnalism) yang mengakomodasi berbagai gaya dan kecenderungan penulisan.

Persamaan—yang niscaya menjadi tantangan keduanya—antara sastra dan jurnalistik menurut saya terletak pada persfektif atau cara pandang. Ini yang menjadikannya berbeda antara satu karya dengan karya yang lain.

Dunia tulis-menulis semakin diminati bukan saja ia memberi banyak manfaat dan membuka sejumlah profesi, namun yang menarik, di dalam satu profesi berkembang lagi berbagai potensi dan kemungkinan. Dunia jurnalistik sebagai misal, bukan saja berkembang secara konsep, penerapan dan pola penulisan, juga diikuti perkembangan yang pesat oleh berbagai jenis media, tak hanya sebatas cetak (surat kabar, majalah), kini berkembang media online dengan segala tantangan dan peluangnya.

Akan tetapi, apa pun profesi yang anda pilih, dunia menulis niscaya tetap dibutuhkan. Alangkah keren membayangkan petani yang menulis, pedagang yang menulis, dokter yang menulis, sopir yang menulis, dan seterusnya; baik yang ia tulis bidangnya sendiri, maupun bidang-bidang lain, baik untuk ia konsumsi sendiri maupun untuk dipublish secara luas; dengan cara itu mereka berkomunikasi, menyampaikan pikiran dan pendapat, dan lebih dari itu: merintis jalan ke arah taqwa.

Seandainya mereka yang berprofesi bukan penulis bisa fasih menulis, bayangkan betapa besarnya harapan sekaligus tuntutan kepada mereka yang basis profesinya memang dunia tulis-menulis seperti sastrawan dan wartawan. Dan bayangkan pula betapa besarnya buah pahala yang dapat mereka unduh jika dalam menulis—berita atau cerita—mereka tak pernah meluputkan niat ibadah kepada Allah semata, meskipun manifestasinya melalui masyarakat di tanah tempat mereka berpijak!

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang basis profesinya bukan di dunia tulis-menulis, dan tak fasih menulis? Ojo khawatir! Jadilah pembaca yang baik. Bahkan orang yang profesinya pun berbasis dunia tulis-menulis—wartawan atau sastrawan—dituntut juga harus membaca, terus belajar dan berproses. Terhadap ini, sadarilah bahwa sebelum ada perintah mengangkat kalam, Allah Azza Wajalah telah terlebih dulu memerintahkan hamba-Nya melalui nabi kita Muhammad SAW untuk melihat yang tersurat dan tersirat,”Iqra (bacalah)!” (*)

Makalah ini disampaikan dalam seminar penulisan yang diselenggarakan Madrasah Taywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, 21 Desember 2015. Tulisan ini dipublikasikan atas seizin penulis  

 

Raudal Tanjung Banua,

Sastrawan kelahiran Desa Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Bukunya yang sudah terbit antara lain Pulau Cinta di Peta Buta (2003) dan Ziarah bagi yang Hidup (2004). Karyanya Parang Tak Berulu (Gramedia Pustaka Utama) dan Gugusan Mata Ibu (Bentang Pustaka) masuk dalam final Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2005 untuk kategori prosa dan puisi. Tahun 2004 memperoleh penghargaan puisi terbaik Sih Award dari Jurnal Puisi dan Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison. Kini, ia mengelola Komunitas Rumahlebah Yogyakarta, AKAR Indonesia, dan jurnal Cerpen Indonesia.

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06984079
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
298
958
4335
6966130
5261
36605
6984079

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-06 07:55:36

Kami memiliki 20 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top