Menu

Optimisme Merajut Lahirnya Generasi Emas

Oleh H. Masrukhi

GENERASI emas, sebuah ungkapan indah untuk anak-anak bangsa yang diharapkan berkembang menjadi generasi penerus bangsa, dan akan memainkan peran penting kelak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sosok generasi yang diharapkan, yaitu memiliki kecerdasan holistik, intelektual, emosional, dan spiritual secara berimbang, yang dengan idealismenya, memegang teguh komitmen nasionalisme. Tak pelak, generasi ini menjadi dambaan dari sistem pendidikan nasional Indonesia, dengan visinya “membentuk insan yang cerdas dan kompetitif”.

Namun siapapun kita, akan sadar bahwa kondisi masyarakat Indonesia sedang berada dalam posisi yang sangat memprihatinkan. Setiap hari kita menyaksikan masyarakat bergolak dalam perilaku-perilaku yang tidak simpatik, yang bisa disimak dari berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.

Sajian berita yang tidak simpatik itu, semakin membuat miris melihat banyaknya berita tawuran yang dilakukan anak-anak (pelajar), perampokan dan pemerkosaaan yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, hingga perilaku koruptif oleh para elit di negeri ini.

Pada tataran konseptual, perilaku masyarakat mengalami degradasi kehidupan yang sungguh luar biasa. Perilaku-perilaku santun, toleransi, solidaritas, kepedulian sosial, gotong royong, kerja keras dan semacamnya sebagai atribut good citizenship, tergantikan oleh budaya barbarian;  saling curiga, egois, anarkis dan semacamnya.

Maka tak heran jika orang asing cenderung berpandangan apriori terhadap Indonesia dan bermacam atribut negative ditimpakan pada masyarakat. Indonesia dinilai sebagai negara miskin, bodoh, kumuh, terbelakang, tidak aman dan sebagainya.

Ironis. Sebab, Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah penduduk yang besar pula, memiliki kemajemukan dalam berbagai hal, sangat kaya akan potensi, baik Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), maupun sumber daya pendukung lainnya. Mulai dari etnis, budaya, bahasa, keyakinan, dan tradisi.

Secara geografis, Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang disatukan oleh laut yang membentang sangat luas, sehingga komunikasi dan konsolidasi antarbagian di Indonesia, sangatlah mahal.

Lebih dari segalanya, Indonesia memiliki Pancasila. Para the founding father’s bangsa mewariskan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai dasar negara dan filosofi bangsa dengan nilai-nilai luhur yang digali dan kemudian mampu menyatukan kemajemukan bangsa.

Presiden Soekarno mengibaratkan Pancasila sebagai meja statis kokoh, yang mempersatukan segala jenis keanekaragaman dan sebagai Leitstar atau bintang pemimpin yang berarti tuntunan dinamis. Dalam arti, ke manapun arah negara-bangsa berjalan, maka Pancasila menjadi suatu pandangan hidup (weltanschaung).

Yang perlu dipahami, bahwa Pancasila tidak sekadar wujud kesepakatan antarelemen bangsa mengenai dasar negara (philosopische grondslag), juga suatu hal yang perlu diimplementasikan dan diwariskan dalam kurun selama-lamanya. Seluruh agama, kebudayaan, dan etnis yang ada di bumi Indonesia, bisa bernaung, berkembang dan hidup bersama di bawah Pancasila.

Moralitas dan Karakter

Eksistensi moralitas tak dapat terpisahkan oleh adanya nilai dan norma. Notonagoro mendifinisikan nilai sebagai suatu kualitas yang melekat pada suatu hal (objek), sehingga halnya mengandung harga, manfaat atau guna.

Secara hierarkhis, nilai terbagi dalam nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis. Ranah nilai dasar menempatkan Pancasila sebagai acuan dalam perumusan nilai-nilai yang ada di bawahnya. Nilai instrumental berperan dalam penerjemahan Pancasila yang outcome-nya berupa perundangan untuk dilaksanakan oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Hanya saja, permasalahan yang menjadi sorotan saat ini adalah inkonsistensi antara tataran dasar dan instrumental dengan tataran praksis, yang dalam implementasinya dilaksanakan oleh masing-masing pribadi (individu).

Sastroatmodjo (2010) mengungkapkan, secara normatif norma mengandung arti aturan, kaidah, petunjuk, pedoman yang harus dipatuhi oleh manusia agar perilakunya tidak menyimpang dan tidak merugikan pihak lain.

Implikasinya, jika terdapat individu atau kelompok yang melanggar norma, maka terdapat sanksi yang akan dikenakan. Problematika terkait sopan santun, hukum, moral, dan agama yang merupakan bagian dari norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak hanya dilakukan oleh golongan (pihak tertentu). Hampir setiap elemen masyarakat dari berbagai latar belakang, memiliki permasalahannya tersendiri yang membutuhkan penyelesaian segera.

Sedang moral (kesusilaan) bisa didefinisikasn sebagai kesuluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar. Dengan bahasa sederhana, moralitas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun.

Sementara krisis multidimensional yang menjangkiti negeri, bermuara pada runtuhnya identitas nasional secara perlahan. Maka dibutuhkan penguatan karakter, yang salah satunya bisa dimanifestasikan melalui institusi pendidikan.

Karakter merupakan bagian dari kepribadian yang terbentuk oleh kebiasaan (habits) dan gagasan  (ideas) yang keduanya tidak dapat terpisahkan. Untuk membentuknya, keyakinan (beliefs), perasaan (feelings), dan tindakan (actions) merupakan unsur-unsur yang saling terkait. Mengubah karakter berarti melakukan reorganisasi terhadap kepribadian.

Karektar memiliki sifat yang universal dan berkaitan dengan nilai. Deklarasi Aspen yang melahirkan core ethical values guna kepentingan dunia pendidikan memiliki rumusan yang cukup lengkap. Core ethical values berisi rumusan nilai berupa trustworthy, honesty, integrity, treates people with respect, responsible, fair, caring, dan good citizen.

Westheimer dan Kahme sebagaimana dikutip Ratna Megawangi (2004) menegaskan, nilai universal itu adalah menghormati dan menghargai (respect), tanggung jawab (responsibility), kejujuran (honesty), tepaselira (empathy), keadilan (fairness), kaya gagasan (initiative), ketekunan (perseverance), keteguhan (integrity), keberanian (courage), serta kaya harapan (optimistic).

Sedang dalam the six pillars of character yang dikeluarkan The Yoseph Institute of Ethics menyebutkan, ada enam kategorisasi nilai yang mendasari karakter. Yaitu trustworthiness, fairness, caring, respect, citizenship, dan responsibility.

Dalam dalam kepercayaan masyarakat Jawa, juga terdapat nilai-nilai serupa, yang secara turun temurun menjadi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Nilai nilai itu antara lain ngéli nanging ora kéli, menang tanpa ngasoraké, manjing ajur ajêr, ngono ya ngono nanging aja ngono, sapa nandur ngunduh, aja duméh, dan sebagainya  (Sastroatmodjo, 2010).

Merajut Generasi Muda

Survei yang penulis lakukan di sekitar kehidupan generasi muda (termasuk mahasiswa), menunjukkan adanya energi yang dahsyat pada diri mereka, yang dikenal dengan collective consciousness.

Collective consciousness adalah kesadaran bersama di kalangan masyarakat yang digerakkan oleh rasa simpati, bahwa mereka harus bersatu-padu. Energi ini yang menyebabkan betapa gagasan dan opini yang semula hanya dimiliki sekelompok kecil masyarakat, dalam waktu yang cepat menjadi milik masyarakat, sehingga bisa diberdayakan untuk menginternalisasikan tata nilai pada generasi muda Indonesia.

Kiprah pergerakan generasi muda di panggung sejarah bangsa, menunjukkan bukti akan peran nyata energi collective consciousness. Tonggak-tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sejak tahun 1908, 1928, 1945, 1966, sampai 1998, tidak terlepas dari kiprah dan peran mereka.

Belajar dari sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara, generasi muda akan selalu berada di front terdepan, tanpa mengenal lelah, ketika dirasakan adanya ketimpangan. Mereka akan menjadi pengawal moral, agar kebenaran dan keadilan menjadi sendi kehidupan.

Dalam konteks ini, Smelser melihat adanya kondisi obyektif bagi tergeraknya kekuatan collective consciousness masyarakat. Kondisi obyektif tersebut meliputi struktur yang kondusif (conducive structural), ketegangan struktural (structural strain), opini dan pandangan publik sebagai faktor pemercepat (accelerator factors), mobilisasi tindakan (mobilization for action), dan pelaksanaan kontrol sosial (operation of social control).

Analisis Smelser menunjukan, aksi kolektif tidaklah muncul sendirian, melainkan harus ditopang berbagai faktor eksternal, seperti dukungan opini publik, keinginan mencari solusi dari kondisi yang tidak ideal, alasan faktual dan rasional, adanya peristiwa pemicu dari kehidupan sosial, serta mobilisasi. Collective consciousness akan lahir manakala kelima kondisi obyektif tersebut berada di tengah masyarakat.

Berbagai kekuatan yang dimiliki bangsa ini, mesti di-transfer kepada generasi bangsa, sehingga merajut lahirnya generasi generasi emas, tidak akan sekadar wacana. Dalam pada itu, perlu kiranya dikembangkan desain pendidikan karakter yang memuat berbagai prinsip.

Pertama, nilai-nilai Pancasila sebagai dasar bagi proses-proses pendidikan karakter. Pancasila sebagai formula pendidikan karakter, adalah sebuah keniscayaan. Sebab, dasar negara ini telah memberikan spirit dan tatanan nilai yang mengakomodasi seluruh kebutuhan masyarakat.

Kedua, spirit pendidikan karakter berbasiskan Pancasila yang bertumpu pada collective consciousness. Pasalnya, dengan tumbuhnya collective consciousness akan muncul energi yang kuat bagi tumbuh dan  berkembangnya karakter masyarakat secara bersama.

Ketiga, bergerak bersama seluruh elemen masyarakat. Institusi pendidikan memang memegang peran sangat strategis untuk melaksanakan pendidikan karakter. Keteladanan dalam masyarakat dari para tokoh, juga menjadi hal penting dalam rangka internalisasi nilai-nilai karakter kepada generasi muda bangsa ini.

Akhirnya, media massa juga menempati peran sentral dan strategis dalam melakukan penanaman karakter. Tantangannya, yaitu bagaimana media mempu menyiarkan berbagai konten yang memiliki muatan-muatan pendidikan bagi masyarakat, dan tidak semata terkooptasi oleh kapitalisme yang menjadi mesin keuntungan bagi produsen. Semoga. (*)


Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd.,
Penulis adalah guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan kini dipercaya sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Artikel ini disarikan dari makalah yang disampaikan dalam seminar nasional yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Al-Fikr Universitas Muria Kudus (UMK), Mei 2015.

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06988010
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1121
1589
8266
6966130
9192
36605
6988010

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-08 19:26:41

Kami memiliki 21 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top