Menu

Paradigma Pendidikan sebagai Investasi

Oleh Riska Widyastuti

70 tahun Indonesia Merdeka, namun bangsa ini belum lagi bisa dikatakan sejahtera. Masih banyak problem sosial yang dihadapi, khususnya persoalan kemiskinan yang memerlukan pemikiran untuk mencari solusinya.

Berdasarkan data yang pernah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2014 mencapai 28,28 juta orang (Antara, 1/7/2014). Data ini bisa lebih, jika menghitung kemungkinan adanya sampling error survei.

Problem mendasar yang bisa dilihat secara kasat mata, antara lain tidak minimnya peluang kerja dibanding dengan kebutuhan angkatan kerja yang ada, semakin sempitnya lahan pertanian di perdesaan, dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Untuk hal yang terakhir disebut, yakni pendidikan, bisa dilihat dari masih sedikitnya Angka Partisipasi Kasar (APK) di tingkat pendidikan tinggi. Pada 2014, APK perguruan tinggi masih berada di level 14 persen atau masih ada sekitar 86 persen anak usia 19-23 tahun yang belum sempat mengenyam bangku kuliah. (kemdikbud.go.id, 31/1/2014).

Berkaca dari sini, sebenarnya bisa dilihat bahwa pendidikan masih belum dilihat sebagai sesuatu yang penting oleh masyarakat di satu sisi, dan bisa karena ketiadaan kemampuan menempuh pendidikan tinggi lantaran tidak ada kemampuan finansial.

Padahal dengan pendidikan, sebenarnya kemiskinan akan cepat dikikis. Melalui pendidikan, anak-anak generasi bangsa bisa diberikan pencerahan mengenai bagaimana menghadapi masa depan dengan penuh optimisme, membuat karya-karya (inovasi), atau membangun jaringan usaha.

Semua itu, tidak akan bisa dimiliki seseorang tanpa melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Maka, paradigma yang harus ditanamkan kemudian, bahwa pendidikan pada dasarnya adalah investasi paling berharga dalam membangun bangsa.

Revolusi Mental

Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menegaskan, bahwa tujuan kemerdekaan adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Namun ironisnya, fakta yang ada justru banyak oknum yang melakukan sesuatu yang merugikan bangsa dan menciderai tujuan mulia kemerdekaan itu. Salah satunya adalah dengan melakukan tindak koruptif, yang hingga saat ini masih menjadi penyakit yang menggerogoti bangsa ini.

Survei yang dilakuka transparency international mencatat, dari 146 negara, Indonesia berada pada posisi 10 besar negara terkorup di dunia, tepatnya di posisi 5 dan no 1 untuk wilayah Asia–Pasifik.

Pendidikan sekali lagi juga menjadi domain yang sangat penting dan tidak bisa dinafikan dalam upaya mengikis budaya koruptif ini. Melalui pendidikan, bisa diinternalisasikan nilai-nilai karakter, sehingga generasi bangsa akan menjadi “pewaris negeri’’ yang bertanggung jawab, jujur, dan akan meneruskan cita-cita mulia kemerdekaan.

Dalam kerangka merespons gagasan Revolusi Mental Presiden Joko Widodo (Jokowi), maka pendidikan juga menjadi satu hal yang akan tidak bisa dilupakan dalam upaya membangun karakter (character building).

Namun begitu, lembaga pendidikan tidak bisa berdiri sendiri dalam menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada generasi bangsa ini. Butuh dukungan banyak pihak, sehingga pembangunan karakter tidak sekadar akan menjadi wacana atau cita-cita semata.

Lingkungan (millieu), juga menjadi faktor penting. Di luar lembaga pendidikan (sekolah/perguruan tinggi), anak adalah tanggung jawab masyarakat untuk mendidiknya.

Keteladanan para elit atau pemimpin bangsa ini juga menjadi hal penting yang tak bisa dilupakan. Dengan keteladanan yang baik, maka secara tidak sadar para pemimpin itu telah memberikan pendidikan yang berharga bagi generasi muda bangsa ini.

Sebaliknya, jika memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat, antara lain dengan melakukan korupsi, maka itu akan menjadi racun bagi generasi bangsa. Semoga, ke depan paradigma pendidikan sebagai investasi membangun bangsa akan menjadi realitas yang akan mendukung menyiapkan generasi emas Indonesia. (*)


Riska Widyastuti
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Universitas Muria Kudus (UMK) dan staf redaksi di Tabloid Info Muria UMK. Artikel ini dimuat di Harian JATENG EKSPRES edisi 22 Agustus 2015

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06987938
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1049
1589
8194
6966130
9120
36605
6987938

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-08 18:43:29

Kami memiliki 23 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top