Menu

Ilmu Dasar (yang) Terlupakan

Nova Laili Wisuda

PERNAHKAH kita berpikir, kapan pertama kali kita belajar? Apakah pada saat masuk institusi formal bernama sekolah?

Jawabnya, tidak. Karena sebenarnya kita sudah mulai belajar sejak dalam kandungan. Pertama kali kita adalah makhluk primitive, dari gumpalan yang kemudian berkembang (terbentuk) beberapa jaringan dan organ sederhana.

Di dalam kandungan, pertama kali yang dipelajari adalah kepekaan terhadap sesuatu dan menanggapinya. Tak heran, terkadang ada calon ibu yang mengaku janin di dalam kadungannya bergerak-gerak saat memberi sentuhan atau mencoba berkomunikasi satua arah dengan si janin. Itulah pembelajaran yang sangat dasar dari manusia.

Kini, seiring dengan perkembangan industri, membawa dampak yang luar biasa di segala sendi kehidupan, termasuk menjadi pemicu ditinggalkannya kajian terhadap ilmu dasar.

Pemerintah dan pemodal mengalokasikan dana untuk penelitian ilmu terapan, yang diharapkan input-nya merupakan suatu teknologi dan bernilai ekonomi, sehingga menghasilkan banyak keuntungan tentunya.

Tetapi dari analogi awal pembelajaran manusia, mestinya setiap orang tidak boleh lupa (melupakan) terhadap ilmu-ilmu dasar, yang merupakan motor penggerak majunya ilmu terapan yang sekarang ini ada.

Contoh yang bisa dikemukakan di sini, adalah ilmuwan terkemuka Archimides yang mempelajari matematika dasar, namun mampu menerapkannya pada praktik kehidupan sehari-hari.

Selain itu, penelitian ilmu dasar mikrobiologi dan ditemukannya suatu benda mikroskopis  terdiri dari DNA, yang kini dikenal dengan ‘’virus’’. Dari sini kita mempelajari sifat-sifatnya dan kemudian menerapkannya untuk ilmu farmasi, yaitu dalam pembuatan vaksin untuk virus tertentu seperti flu, rabies dan virus penyebab penyakit lainnya (Quake, 2009).

Perlu disadari, antara ilmu dasar dan ilmu terapan, itu saling terkait. Bermula dari ilmu dasar lah, selanjutnya dikembangkan terapan suatu teknologi yang mempermudah manusia dalam kehidupannya.

J.J. Thompson, penemu elektron dalam pidatonya pada 1916 mengatakan, ‘’Dengan penelitian ilmu dasar, penelitian yang dilakukan tanpa tahu aplikasi untuk masalah industri tapi semata-mata untuk memperluas pengetahuan kita tentang Hukum Alam. Saya akan memberikan salah satu contoh dari penelitian yang sangat diunggulkan pada masa perang yaitu penggunaan sinar-X dalam operasi. Sekarang bagaimana itu ditemukan?’’

Dia melanjutkan, ‘’Itu bukan hasil dari penelitian dalam ilmu terapan untuk menemukan metode yang lebih baik ,mengetahui lokasi peluru yang menyebabkan luka. Ini lebih bertujuan pada penyelidikan lanjut, tapi kami tidak bisa membayangkan itu mengarah ke penemuan sinar-X. Dan metode ini adalah karena adanya penyelidikan dalam ilmu dasar,yang dibuat dengan tujuan untuk menemukan apa sifat dari Listrik." (Smith, 2008).

Negara akan kuat apabila dapat menguasai hampir semua disiplin ilmu, baik ilmu dasar maupun terapan. Pada zaman perang dunia II, Amerika Serikat melalui penasehat Kepresidenan bidang keilmuan, Vannevar Bush, membuat kebijakan dalam pendanaan penelitian dari berbagai disiplin ilmu. (Roll-Hansen, 2009).

Untuk itu, alangkah baik jika pengembangan ilmu tidak sekadar di bidang ilmu terapan saja, juga ilmu-ilmu dasar. Yakinlah, bahwa pengembangan ilmu pengetahuan akan berjalan dengan baik, manakala ditunjang oleh ilmu dasar yang baik pula. (*)
 
 
Nova Laili Wisuda, SP, M.Sc.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06988003
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1114
1589
8259
6966130
9185
36605
6988003

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-08 19:21:38

Kami memiliki 22 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top