Menu

Menindih Rutinitas

Mochamad Widjanarko

Waktu terus berjalan mengikuti: Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dan tahun berganti tahun. Pergantian ini alami dan tidak bisa dipungkiri, baik menurut sistem penanggalan bulan atau matahari.

Apa yang mesti kita lakukan seiring berjalannya waktu itu? Sebagai kaum intelektual, baik mahasiswa dan staf pengajar, memiliki tugas merubah konstruksi sosial ke arah yang lebih baik dan mencerahkan.

Permasalahannya, bagaimana sivitas akademika mengisi 24 jam dengan aktivitas yang selalu menggairahkan untuk merubah, menemukan, dan mewarnainya dengan berbagai kegiatan ilmiah, membangun kritisisme, bisa dipertanggungjawabkan, dan bermanfaat bagi individu lain?

Menjadi mahasiswa, tidak sekadar selembar ijazah yang dikejarnya. Pun demikian dengan dosen dan staf akademik, yang mestinya tidak cuma melayani mahasiswa. Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Saya tidak memiliki kompetensi mengajari tentang hal ini. Tetapi setidaknya kita tahu, saat bertemu dengan mahasiswa, dosen, dan kolega lain di luar institusi ini, bukan alat komunikasi, laptop atau notebook terbaru, model sepatu, atau trend mode yang dibahas. Melainkan, ikut Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tidak? Atau pertanyaan lain terkait aktivitas intelektual.

Paling tidak, itulah yang penulis alami saat ikut pertemuan nasional atau internasional di berbagai tempat. Sedang penelitian apa? Pengabdian di mana? Paper-nya diterbitkan di jurnal apa? Dan, sudah menerbitkan buku apa?

Dalam alam akademik, penelitian dan pengabdian, memerlukan daya dukung staf akademik yang mumpuni. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sebagai poros utama yang menangani hal ini, setiap tahun menggelontorkan hibah, baik untuk dosen maupun mahasiswa.

Di luar Dikti, Ford Foundation, Japan Foundation, Asia Foundation, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), juga bisa diakses untuk kerjasama-kerjasama penelitian.

Maka, beberapa pertanyaan berikut kiranya bisa melecut kita menyadari pentingnya hal di atas; apa yang sudah kita lakukan sebagai kaum intelektual? Hanya menggugurkan kewajiban dengan mengajarkah? Atau, menjadi berarti bagi lingkungan?

Dalam konteks ini, dunia persilatan sangat tepat menjadi analog. Di dunia persilatan, seorang pesilat akan menguji ilmunya dalam pertarungan. Demikian halnya dunia akademik, mestinya mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah, membandingkan dan menjajal kemampuan diri.

Hal lain yang mesti dicerna, di era informasi seperti sekarang, mahasiswa tak perlu lagi minder dengan dosen. Bisa saja, misalnya, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) bertemu pakar psikologi politik, Prof. Hamdi Muluk.

Pertemuan yang kemudian dibarengi dengan melakukan komunikasi aktif serta diimbangi dengan membaca referensi serta aktif dalam kegiatan ilmiah, lambat laun pengetahuan (wawasan)-nya tentu akan bertambah, bahkan bisa melampaui dosennya, jika dosen hanya bertumpu pada buku-buku teori yang didapat saat kuliah.

Berkarya, tidak sekadar “sudah” melakukan penelitian dan pengabdian. Melainkan bagaimana menarasikan, “membunyikan” hasilnya, mengimplementasikan dalam realitas sosial, dan berperan dalam meminimalisasi masalah yang dihadapi masyarakat.

Namun untuk itu, diperlukan kemauan dan keberanian para intelektual kampus keluar dari zona nyaman, dengan mengambil peran-peran intelektual dan sosial secara lebih nyata. Permasalahannya, mau atau tidak? (*)
                 


Mochamad Widjanarko,
Penulis adalah staf pengajar Fakultas Psikologi UMK dan Kandidat Doktor Psikologi Sosial Universitas Airlangga (Unair)

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06988001
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1112
1589
8257
6966130
9183
36605
6988001

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-08 19:20:55

Kami memiliki 21 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top