Menu

Mendadak Buta Huruf

Oleh Zamhuri

Istilah buta huruf biasanya dikaitkan dengar program prioritas pemerintah dalam melepas belenggu ketidakmampuan baca tulis masyarakat. Cap buta huruf diidentikkan dengan ketidakmampuan dalam memahami rangkaian huruf dan/atau angka serta susunan suku kata menjadi kalimat bermakna.

Buta huruf juga dipahami sebagai kelompok anggota masyarakat yang kurang mendapatkan pelayanan lembaga pendidikan, karena berbagai faktor penyebab. Dalam pemahaman konvensional, buta huruf adalah momok yang mesti dihindari oleh siapa saja yang tidak ingin terkena cap ketinggalan zaman.

Di tengahkemajuan zaman, istilah buta huruf muskil kita temui lagi. Kecuali di tengah kelompok masyarakat yang  a priori terhadap pentingnya ketrampilan baca tulis. Entah karena faktor usia lanjut, keterbatasan fisik sebagai penyandang difabel, atau buta huruf sebagai respons penolakan ajakan zaman.

Buta huruf telah menjadi stigma keterbalakangan pengetahuan dan kekerdilan mental dalam merengkuh zaman yang terus berbenah. Buta huruf adalah pilihan konyol bunuh diri peradaban. Pendeknya, buta huruf tidak mungkin menjadi pilihan sikap dalam merespons pesatnya sumber pengetahuan dan derasnya arus informasi.

Anehnya, buta huruf kini menjadi pilihan, bahkan mungkin mulai digemari oleh sebagian anggota masyarakat. Orang tiba-tiba gagap dan tidak memiliki kemampuan memahami suku kata dan simbol komunikasi yang terpapar di sudut-sudut jalan.

Ada sebagian yang merasa kelu dalam mengeja nilai pesan untaian kalimat pada pasal dalam regulasi perundangan. Ada yang tiba-tiba membisu ketika memberi kesaksian dalam mahkamah keadilan. Ada yang tiba-tiba tidak memiliki kemampuan memahami makna dalam teks bernyawa kejujuran, ketika dihadapkanpilihan kebutuhan. Ada pula yang tiba-tibaterbata-bata ketika harus membaca pesan isi hati, ketika dia memilih peran antagonis dalam drama kehidupan.

Mungkin lebih tepat dalam menilai sikap tersebut, adalah “mendadak buta huruf”. Mendadak buta huruf karena tiba-tiba tidak memiliki kemampuan membaca huruf (teks), angka dan simbol bahan bacaan, sehingga tidak memiliki daya tangkap dan nalar rasional.

Kita sering menjumpai orang seenaknya melanggar pesan traffic lalu lintas di jalan raya. Membaca berita aneka modus orang memperkaya sendiri dan orang lain dengan cara tidak legal. Meningkatnya para pengadil dan penjaga marwah hukum menjadi pesakitan.

Lainnya, yakni kebiasaan para pendidik(guru/dosen) yang berperilaku tidak sebangun dengan apa yang diajarkan. Kebiasaan peserta didik (pelajar/mahasiswa) yang gemar belajar mangambil sumber karya tulis orang tanpa menyebut sumber kutipan. Ketidakmampuan para pemimpinan membaca kembali traktat janji-janji saat kampanye ketika menjabat. Atau para pandai mengutip ayat saat memanipulasi bunyi kitab suci.

Banyak yang tiba-tiba tidak memiliki ketrampilan membaca atau mungkin menulis makna pesan teks kembali, meski dia berpendidikan. Bahkan, bisa jadi, orang yang buta huruf ini telah mengenyam bangku pendidikan yang paling tinggi dan menumpuk gelar, melebihi susunan huruf nama genuin-nya.

Orang mendadak buta huruf justru ketika dia tidak pantas menyandang stigma buta huruf. Orang buta huruf karena dia telah memilih berbutah uruf, angka dan simbol bacaan. Mendadak buta huruf karena memilih buta adab dan peradaban. Padahal, nilai keadaban telah dieja, dihafal serta dipahami dari teks pelajaran, pasal dalam undang-undang, dan bunyi ayat dalam kitab suci. Mendadak buta huruf, siasat pengelabuhan atau pilihan kehidupan? Entahlah. (*)



Zamhuri,
Penulis adalah pemimpin redaksi website UMK dan Tabloid Info Muria

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06984137
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
356
958
4393
6966130
5319
36605
6984137

IP: 192.168.1.45
Jam Server: 2020-08-06 08:45:22

Kami memiliki 25 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top