Berkaca pada Al-Qur’an

RAMADAN mengajarkan manusia untuk lebih bersabar dan berperilaku baik. Salah satunya, bersabar dalam menghadapi setiap persoalan dengan sesama manusia. Al-Qur’an, antara lain mengajarkan musyawarah untuk memecahkan setiap persoalan.

Sebab, sejatinya manusia hidup tak lepas dari konflik dengan sesamanya. Dalam Al-Qur’an  ada pelajaran penting bagaimana manusia harus berkomunikasi dengan baik, untuk memecahkan permasalahan dan persoalan dengan manusia lainnya.

Metode Al-Qur’an dalam berkomunikasi untuk memecahkan persoalan (konflik), secara jelas termaktub dalam Surat Ali Imron ayat 159.

”Umat Islam diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohon ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Saat ini, banyak umat Islam yang semakin jauh dari apa yang telah diajarkan Al-Qur’an. Setiap kali menghadapi konflik (persoalan), manusia selalu mendahulukan amarah atau hawa nafsunya dan maunya menang sendiri. Kebiasaan ini secara perlahan mesti diubah dengan metode yang sudah diajarkan dalam Al-Qur’an.

Pertama, memaafkan dulu, memohon ampun, dan bermusyawarah. Sekilas, apa yang diajarkan dalam Al-Qur’an  memang terasa berat. Terlebih, bagi yang terlanjut marah karena persoalan yang dihadapi. Untuk itu, Ramadan menjadi momentum tepat untuk saling mengevaluasi diri.

Al-Qur’an  mengajarkan ilmu berkomunikasi yang baik dengan Allah dan sesama manusia. Islam mengajarkan agar manusia tidak boleh berkeras hati dengan siapa pun. Jika berkeras hati, maka imbasnya akan semakin dijauhi manusia yang lain.

Al-Qur’an  mengajarkan bagaimana manusia dituntut ikhlas memaafkan, kendati terkadang memaafkan menjadi hal paling berat, terlebih jika sebuah kesalahan justru dilakukan orang lain. Jika tahapan tersebut dilakukan, maka setiap persoalan atau konflik bisa terpecahkan.

Cara berkomunikasi seperti inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini dalam menghadapi setiap konflik internal bangsanya. Tidak melulu mengedepankan amarah. Anehnya, banyak metode keilmuan dalam Al-Qur’an, justru lebih sering diamalkan orang Barat, sementara umat Islam justru menjauhinya.

Semoga Ramadan menjadi bulan yang tepat untuk mengkaji Al-Qur’an, memaknai, dan mengamalkannya. Kekhusyukan mendalami agama selama Ramadan biasanya meningkat. Terlebih di Indonesia, suasana keagamaan pada Ramadan masih sangat kental. (Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/berkomunikasi-ala-alquran/)

 
Dr. A. Hilal Madjdi, M.Pd.
Wakil Rektor I Universitas Muria Kudus dan Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus