Ramadan dan Spirit Membangun Peradaban

ISLAM mewajibkan puasa Ramadan sebagai salah ibadah yang mesti dijalankan para pemeluknya. Kewajiban ini secara tegas termaktub dalam firman Allah SWT. dalam firmannya, ‘’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa’’. (QS. Al-Baqarah : 183)

Ramadan sendiri, sebenarnya memiliki spirit luar biasa bagi kemajuan peradaban dunia. Spirit kemajuan dan membangun peradaban, ini disebut secara secara jelas dalam ayat pertama Surat Al-Alaq yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. melalui perantara Malaikat Jibril AS. pada 17 Ramadan: ‘’Iqra’.’’

Iqra’ (bacalah). Ayat ini memiliki kandungan makna yang demikian besar bagi peradaban manusia di dunia. Sebab, ayat ini menegaskan pentingnya tradisi (budaya) membaca (dan juga menulis), yang erat kaitannya dalam membangun kecendekiawanan dan intelektualisme.

Kecendekiawanan dan intelektualisme, merupakan pilar penting bagi kemajuan peradaban. Menurut KH. Ali Yafie (1990), tradisi membaca dan menulis yang mengawali datangnya wahyu, dilukiskan sebagai kunci ilmu pengetahuan. Tentu saja al-Qur’an bukanlah buku ilmu pengetahuan yang mengajarkan ilmu-ilmu fisika, kimia, geologi, antropologi, astronomi, dan seterusnya.

Akan tetapi, al-Qur’an telah mengisyaratkan prinsip-prinsip ilmiah yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Hasil-hasil penelitian ilmiah mutakhir, banyak membantu memahami isyarat-isyarat ilmiah al-Qur’an, sekaligus membuktikan al-Qur’an sebagai mukjizat ilmiah.

Di sisi lain, dalam banyak ayat, Allah SWT. pun menjelaskan betapa mulia seseorang yang memaksimalkan pikirannya untuk belajar, mengembangkan pengetahuan, dan mengambil peran dalam kemajuan peradaban.

‘’Sesungguhnya di dalam kejadian langit dan bumi serta silir bergantinya malam dengan siang, benar-benar menjadi tanda atas kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.’’ (QS. Ali Imron : 190)

Kesadaran Ilmiah

Al-Qur’an di masa-masa awal Islam, yakni pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah, telah menjadi spirit kemajuan peradaban bagi dunia. Tak hanya di kawasan Asia, tetapi mencapai Eropa dan juga Afrika.

Dalam catatan Musthofa Imron (2002), perkembangan ilmu pengetahuan pada masa keemasan Islam itu meliputi berbagai bidang, mulai dari qira’at, filsafat, hadits, matematika, kimia, astronomi, kedokteran, farmasi, hingga sastra dan seni.

Al-Kindi, Abu Nashr Al-Faraby, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Ibnu Shina, Ibnu Thufail, Jabir Bin Hayan, Al-Khawarazami, Jabir Al-Battani, Ibnu Khaldun, Ibnu Hayyam, dan Ibnu Bathuthah, adalah sedikit nama yang bisa disebut untuk mengemukakan kegemilangan cendekiawan muslim, yang telah menyumbangkan pemikiran dan karyanya bagi peradaban dunia.

Dua poin penting yang menjadi pemacu perkembangan peradaban Islam di masa itu, yaitu faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yaitu dorongan dari ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits.

Sedang faktor eksternal, antara lain semangat kaum muslimin yang bersumber dari al-Qur’an untuk membentuk (memajukan) kebudayaan, perluasan Islam ke luar Jazirah Arab, dan adanya fasilitas dari pemerintah kepada ulama dan cendekiawan mengembangkan ilmunya.

Ada dua hal penting juga, yang kiranya bisa menjadi cermin bagi umat Islam saat ini, agar bisa ikut mengambil peran dalam kemajuan dunia global. Pertama; membangun kesadaran ilmiah. Kesadaran ilmiah ini penting, karena dari sinilah komitmen ilmiah dibangun.

Kedua; mengembalikan tradisi dan budaya literasi (membaca dan menulis). Tradisi literasi menjadi perhatian serius dalam Islam, yang ditandai perintah membaca dalam ayat yang pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Tradisi literasi ini, dalam konteks kekinian, mesti mendapatkan dorongan dan diinternalisasikan dalam sanubari setiap generasi penerus Islam. Dengan harapan, di masa depan, banyak lahir karya-karya dan penemuan dalam berbagai bidang keilmuan yang bermanfaat bagi kehidupan dan peradaban.

Dan untuk membumikan kembali tradisi-budaya literasi di kalangan umat Islam, Ramadan menjadi momen tepat, mengingat wahyu pertama yang mengingatkan akan pentingnya literasi, turun di bulan suci ini, di malam yang dikenal dengan Nuzulul Qur’an. (ROSIDI)

 

Tulisan ini dimuat di Rubrik ‘’Cahaya Ramadan’’ Koran Sindo, Selasa 7 Juli 2015