Memahami Makna Puasa

RAMADAN merupakan jamak dari kata ‘’Armadhaa’’ yang diambil dari bahasa qubru ramadan, yang artinya panas yang membakar. Kata ini kemudian diserap ke dalam Bahasa Arab menjadi nama salah satu bulan dalam Islam, yaitu Ramadan.

Oleh ulama, mufassirin dan muhadditsin, mengartikan bahwa Ramadan adalah salah satu bulan di mana ada aktivitas membakar dosa-dosa. Sebab, di bulan ini, umat Islam memperbanyak amalan-amalan hasanah dan Allah SWT. melipatgandakan pahala bagi ibadah hambanya.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah Muhammad SAW., menegaskan, “Man shoma romadhona, iimanan wahtisaaban, ghufiro lahu maa taqoddama min dzambih”. Bahwa barang siapa yang berpuasa Ramadan penuh keimanan dan kesungguhan, maka Allah SWT. akan mengampuni dosanya yang telah lalu. Subhanallah, inilah bukti kemurahan Allah SWT. di bulan suci ini.

Ramadan dikenal dengan syahr al-shiyam. ‘’Syahrun’’ berasal dari Bahasa Arab yang berarti ‘’ke permukaan’’ atau ‘’masyhur’’ (terkenal). Ini memiliki makna, bahwa orang yang berpuasa akan diangkat ke permukaan atau dijadikan terkenal oleh Allah.

Allah SWT. satu-satunya yang menilai puasa seorang hamba. Sebab, puasa merupakan amal qobulliyah, amal yang tidak bisa dinilai manusia. Dalam firmannya Allah mengatakan: “As-shoumu lii wa ana ajzi bih”. Puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang akan menilainya. Puasa merupakan amalan yang tidak bisa dinilai manusia, selain shalat tahajjud.

Selama Ramadan, paling tidak ada empat amalan yang diperbanyak pahalanya. Empat amalan itu adalah membaca al-Qur’an, memperbanyak ke masjid, memperbanyak sedekah (shadaqah), dan memperbanyak shalat malam.

Sementara ‘’al-shoum’’ berarti ‘’berhenti sejenak’’. Islam bukanlah agama yang mengekang. Pada masa Rasulullah, ada tiga pemuda yang berbincang-bincang. Mereka saling mempertanyakan amal istimewa masing masing. Si A mengutarakan amal istimewanya adalah puasa terus menerus dan tidak pernah tidak berpuasa.

Lalu Si B mengutarakan, amal istimewanya yaitu senantiasa shalat malam dan tidak pernah meninggalkannya. Sedang Si C mengatakan, amal istimewanya adalah tidak akan menikah seumur hidupnya, karena ia berpikir banyak laki-laki yang akan masuk neraka karena tidak mampu ‘’menjaga’’ istrinya.

Mendengar diskusi ketiga orang itu, Rasulullah pun menghampiri dan ikut serta berdiskusi. Rasulullah bertanya kepada mereka, siapa Nabi di sini?

‘’Tentu Baginda, ya Rasulullah,” jawab ketiganya.

Rasulullah bertanya lagi, “Siapa yang ma’shum di sini?

“Ya tentu Anda ya Baginda Rasulullah,” jawabnya lagi.

Lalu Rasulullah pun berkata, ‘’Sekali pun saya Nabi dan ma’shum, namun Saya pernah berpuasa dan pernah tidak berpuasa. Saya sering shalat malam dan pernah tidak menjalankannya. Dan Saya juga menikah,” jelasnya.

Nah, shoum di sini dimaksudkan, bahwa kita disuruh berhenti sejenak dan tidak menggebu-gebu melakukan sesuatu secara berlebihan (isyraf). Maka, setidaknya orang yang berpuasa pun tidak berlebih-lebihan. Rasulullah bersabda: “Kam min shaimin laisa min shiyamihi illal juu’i wal athosy”. Betapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari puasanya itu. Wallhu a’lam. (Syaiful Huda–Portal)