Menu

Mutiara Ramadhan

‘’Melepas’’ Dermaga Amal

Al-Wahhab (Yang Maha Memberi) adalah salah satu dari 99 nama Allah SWT yang tersebut dalam Asma’ul Husna. Pengejawantahan nama Al-Wahhab bisa kita amati dan pelajari melalui dinamika waktu dalam kehidupan sehari-hari. Allah  SWT. memberikan anugerah waktu-waktu spesial bagi hambanya. Dalam sehari, terdapat waktu istimewa di sepertiga malam. Waktu di mana rahmat Allah tercurah begitu luar biasa.  Dalam sepekan, ada waktu special, yakni Jumat. Jumat sampai disebut sebagai sayyidul ayyam.

Dalam setiap bulan, juga ada waktu khusus, yakni pada pertengahan bulan dengan penanggalan hijriyah, tepatnya tanggal 13, 14, dan 15. Pada tanggal-tanggal itu disunnahkan puasa tengah bulan. Sedang dalam setahun, terdapat satu bulan istimewa, yaitu Ramadan.

Bulan sabar. Bulan kasih sayang. Bulan menggemanya al-Qur’an, serta bulan meningkatkan amal shalih. Bulan diturunkannya al-Qur’an dan bulan di mana terdapat satu malam yang keutamaannya melebihi 1000 bulan (lailatul qodar). Tak pelak, Ramadan pun menjadi ‘’dermaga amal’’ bagi hamba Allah yang mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridla-Nya.

Ramadan, kini baru saja berlalu. Tak terasa dermaga amal itu telah meninggalkan kita. Bulan istimewa itu telah pergi dengan berjuta keindahan rahmat Tuhan. Dan tentunya berbagai kenangan bagi mereka yang bersungguh-sungguh memanfaatkan meningkatkan keimanan dan ketakwaannya.

Pertanyaannya, bagaimanakah kita menyikapi perginya bulan Ramadan? Menangis dan bersedih sebagaimana salafus shalih. Atau, bersikap biasa saja sebagaimana kebanyakan orang? Pertanyaan-pertanyaan itu, tentu tidak cukup hanya dijawab, melainkan diresapi dan kemudian dimaknai dalam kehidupan masing-masing. Yaitu, bagaimana masing-masing isa memaknai Ramadan sebagai “kawah candradimuka” menghadapi berbagai rintangan, ujian kesabaran, riyadlah dan meningkatkaan ketaatan kepada Allah SWT.

Maka, rentang waktu sebelum Ramadan ke Ramadan, tak salah jika diibaratkan dengan metamorfosa kupu-kupu. Perjalanan hidup dari telur (lahir) menjadi ulat, kemudian menjadi kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah. Sebelum Ramadan, kehidupan manusia ‘awam ibarat ulat. Ulat adalah sebuah makhluk hidup yang menggunakan hidupnya untuk makan dan makan tanpa ada tindakan apapun selain menghabiskan apa yang ia bisa makan.

Mengejar materi tanpa henti dan tak pernah puas dalam hidup. Lalu Ramadan, diibaratkan memasuki fase kepompong. Kepompong sudah terbungkus cangkang yang membuatnya tidak bergerak. Hidupnya hanya berada di daun, berlindung. Kepompong hanya makan seadanya dan sudah merasa cukup. Persis seperti orang berpuasa: menahan diri dan dibatasi oleh berbagai aturan.

Terakhir, yakni fase menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu ini menjadi fase yang merupakan buah dari hasil perjuangan kepompong dalam cangkang, kemudian keluar dengan susah payah yang akhirnya memiliki sayap-sayap indah untuk terbang. Amboi, alangkah indahnya jika setelah Ramadan, kita bisa seperti kupu-kupu yang begitu indah dipandang dan menyenangkan. (*)

 
Danar Ulil Husnugraha,
Mahasiswa PGSD Universitas Muria Kudus (UMK) dan anggota Majelis Pertimbangan Pengurus (MPP) Forum Mahasiswa Islam (Formi) UMK.

Berkaca pada Al-Qur’an

RAMADAN mengajarkan manusia untuk lebih bersabar dan berperilaku baik. Salah satunya, bersabar dalam menghadapi setiap persoalan dengan sesama manusia. Al-Qur’an, antara lain mengajarkan musyawarah untuk memecahkan setiap persoalan.

Sebab, sejatinya manusia hidup tak lepas dari konflik dengan sesamanya. Dalam Al-Qur’an  ada pelajaran penting bagaimana manusia harus berkomunikasi dengan baik, untuk memecahkan permasalahan dan persoalan dengan manusia lainnya.

Metode Al-Qur’an dalam berkomunikasi untuk memecahkan persoalan (konflik), secara jelas termaktub dalam Surat Ali Imron ayat 159.

”Umat Islam diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohon ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Saat ini, banyak umat Islam yang semakin jauh dari apa yang telah diajarkan Al-Qur’an. Setiap kali menghadapi konflik (persoalan), manusia selalu mendahulukan amarah atau hawa nafsunya dan maunya menang sendiri. Kebiasaan ini secara perlahan mesti diubah dengan metode yang sudah diajarkan dalam Al-Qur’an.

Selengkapnya: Berkaca pada Al-Qur’an

Ramadan dan Spirit Membangun Peradaban

ISLAM mewajibkan puasa Ramadan sebagai salah ibadah yang mesti dijalankan para pemeluknya. Kewajiban ini secara tegas termaktub dalam firman Allah SWT. dalam firmannya, ‘’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa’’. (QS. Al-Baqarah : 183)

Ramadan sendiri, sebenarnya memiliki spirit luar biasa bagi kemajuan peradaban dunia. Spirit kemajuan dan membangun peradaban, ini disebut secara secara jelas dalam ayat pertama Surat Al-Alaq yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. melalui perantara Malaikat Jibril AS. pada 17 Ramadan: ‘’Iqra’.’’

Iqra’ (bacalah). Ayat ini memiliki kandungan makna yang demikian besar bagi peradaban manusia di dunia. Sebab, ayat ini menegaskan pentingnya tradisi (budaya) membaca (dan juga menulis), yang erat kaitannya dalam membangun kecendekiawanan dan intelektualisme.

Kecendekiawanan dan intelektualisme, merupakan pilar penting bagi kemajuan peradaban. Menurut KH. Ali Yafie (1990), tradisi membaca dan menulis yang mengawali datangnya wahyu, dilukiskan sebagai kunci ilmu pengetahuan. Tentu saja al-Qur’an bukanlah buku ilmu pengetahuan yang mengajarkan ilmu-ilmu fisika, kimia, geologi, antropologi, astronomi, dan seterusnya.

Akan tetapi, al-Qur’an telah mengisyaratkan prinsip-prinsip ilmiah yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Hasil-hasil penelitian ilmiah mutakhir, banyak membantu memahami isyarat-isyarat ilmiah al-Qur’an, sekaligus membuktikan al-Qur’an sebagai mukjizat ilmiah.

Di sisi lain, dalam banyak ayat, Allah SWT. pun menjelaskan betapa mulia seseorang yang memaksimalkan pikirannya untuk belajar, mengembangkan pengetahuan, dan mengambil peran dalam kemajuan peradaban.

Selengkapnya: Ramadan dan Spirit Membangun Peradaban

Memahami Makna Puasa

RAMADAN merupakan jamak dari kata ‘’Armadhaa’’ yang diambil dari bahasa qubru ramadan, yang artinya panas yang membakar. Kata ini kemudian diserap ke dalam Bahasa Arab menjadi nama salah satu bulan dalam Islam, yaitu Ramadan.

Oleh ulama, mufassirin dan muhadditsin, mengartikan bahwa Ramadan adalah salah satu bulan di mana ada aktivitas membakar dosa-dosa. Sebab, di bulan ini, umat Islam memperbanyak amalan-amalan hasanah dan Allah SWT. melipatgandakan pahala bagi ibadah hambanya.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah Muhammad SAW., menegaskan, “Man shoma romadhona, iimanan wahtisaaban, ghufiro lahu maa taqoddama min dzambih”. Bahwa barang siapa yang berpuasa Ramadan penuh keimanan dan kesungguhan, maka Allah SWT. akan mengampuni dosanya yang telah lalu. Subhanallah, inilah bukti kemurahan Allah SWT. di bulan suci ini.

Ramadan dikenal dengan syahr al-shiyam. ‘’Syahrun’’ berasal dari Bahasa Arab yang berarti ‘’ke permukaan’’ atau ‘’masyhur’’ (terkenal). Ini memiliki makna, bahwa orang yang berpuasa akan diangkat ke permukaan atau dijadikan terkenal oleh Allah.

Allah SWT. satu-satunya yang menilai puasa seorang hamba. Sebab, puasa merupakan amal qobulliyah, amal yang tidak bisa dinilai manusia. Dalam firmannya Allah mengatakan: “As-shoumu lii wa ana ajzi bih”. Puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang akan menilainya. Puasa merupakan amalan yang tidak bisa dinilai manusia, selain shalat tahajjud.

Selama Ramadan, paling tidak ada empat amalan yang diperbanyak pahalanya. Empat amalan itu adalah membaca al-Qur’an, memperbanyak ke masjid, memperbanyak sedekah (shadaqah), dan memperbanyak shalat malam.

Sementara ‘’al-shoum’’ berarti ‘’berhenti sejenak’’. Islam bukanlah agama yang mengekang. Pada masa Rasulullah, ada tiga pemuda yang berbincang-bincang. Mereka saling mempertanyakan amal istimewa masing masing. Si A mengutarakan amal istimewanya adalah puasa terus menerus dan tidak pernah tidak berpuasa.

Selengkapnya: Memahami Makna Puasa

Halaman 1 dari 2

Info Kopertis Wilayah VI

Info RISTEKDIKTI

Tajug

Informasi, Inspirasi dan Penumbuh Harapan

Oleh Dr. Suparnyo SH. MS.

9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk itu, secara pribadi maupun institusi, Saya mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers kita akan semakin baik secara kualitas, sehingga benar-benar bisa mengambil peran maksimal sebagai pilar keempat demokrasi.


Kepedulian Sosial Pasca Ramadhan

Oleh H. Suparnyo

Tak terasa, Ramadhan 1437 H / 2016 M akan segera berlalu dan Idul Fitri sudah di depan mata. Selama Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya, salah satunya ditandainya dengan tumbuhnya rasa kepedulian sosial atau kedermawanan.


Ramadhan dan Etos Keilmuan Santri

Oleh H. Suparnyo

Mengawali tulisan ini, atas nama pimpinan Universitas Muria Kudus (UMK), saya ucapkan selamat menunaikan puasa Rama-dhan 1347 H. / 2016 M. kepada segenap sivitas akademika UMK secara khusus dan umat Islam sedunia umumnya.


Read More

Pengunjung

06794058
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
70
486
1581
6787054
8916
7569
6794058

IP: 192.168.1.34
Jam Server: 2019-11-20 02:08:27

Kami memiliki 12 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top