Menu

Artikel

Pengelolaan Harta Anak Yatim Secara Syar’i

Oleh: Kiai M.Liwa Uddin Najib

Dalam Islam, sebuah kebenaran bukanlah sesuatu yang nisbi (relatif), sehingga semua orang bisa menafsirkannya serta dapat mengatakannya. Namun kebenaran adalah segala sesuatu yang didasarkan pada prinsip prinsip agama yang tertuang dalam Alqur’an dan Hadis serta Ijma’ dan Qiyas.

Benar tidaknya apa yang kita lakukan, tergantung dengan dasar dasar tersebut. Maka dari itu, wajib bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu apa apa yang di halalkan dan yang diharamkan sebelum kita melakukan sesuatu demi menjaga nilai nilai ibadah kita kepada-Nya. Apa yang Halal, mari kita lakukan dan mana yang haram, mari kita tinggalkan.[1]Terutama hal-hal yang krusial di masyarakat dengan aturan agama yang lumayan ketat karena disertai dengan ancaman dari Allah atau Rasul-Nya. Misalkan memelihara anak yatim, kita harus tahu, siapa mereka, apa status hartanya, bagaimana cara mendistribusikan harta yang mereka miliki dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Di situ ada dosa yang sangat besar, tapi juga ada pahala yang luar biasa, tergantung pada kita masing –masing.

Pengertian Yatim

Hal hal yang berkaitan dengan hukum haruslah dimengerti terlebih dulu arti dari hal tersebut, sehingga tidak keliru dalam menghukumi dan menjalankannya.

Kata “yatim” yang sudah biasa dengan gandengkan dengan istilah “piatu” menjadi agak rancau ketika dihubungkan dengan pendistribusian bantuan, baik berupa uang, barang maupun yang lainnya. Dua kata itu sudah menjadi populer dalam bahasa Indonesia sehari hari. Padahal kata “piatu” bukanlah dari bahasa arab yang tentunya punya hukum tersendiri. Karena “piatu” adalah orang yang ditinggal ibunya, sehingga tidak ada kekhususan dalam pemeliharaan yang kaitannya dengan nafkah, karena penganggung jawabnya adalah ayah, sementara ayahnya masih hidup. Berbeda dengan “yatim”, yang berarti anak yang ditinggal mati ayahnya selaku penanggung jawab dalam keluarga.

Yatim, menurut bahasa berarti sendiri, susah dan lambat dari bahasa arab

يَتِمَ يَيْتَمُ مِنْ بَابَيْ تَعِبَ وَقَرُبَ يُتْمًا بِضَمِّ الْيَاءِ وَفَتْحِهَا لَكِنْ الْيُتْمُ فِي النَّاسِ مِنْ قِبَلِ الْأَبِ

Dan biasa digunakan dari jalur ayah.[2]

Sedangkan yatim, menurut istilah adalah orang yang ditinggal mati ayahnya, baik laki laki maupun perempuan, baik kaya ataupun miskin dan dalam kondisi masih kecil serta belum baligh. Istilah yatim juga digunakan untuk hewan yang kehilangan induknya.[3]Sedangkan orang yang ditinggal mati ibunya disebut “munqothi”.

Anak kecil yang dipelihara ibunya atau kakek-neneknya atau dipelihara orang lain disebabkan perceraian orangtuanya, atau sebab lain, tidak dikategorikan sebagai anak yatim. Adapun anak yang kedua orangtuanya telah meninggal termasuk dalam kategori yatim juga, dalam istilah Indonesia disebut yatim piatu.

Batasan Usia Yatim

Di atas telah disebutkan bahwa yang disebut yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya dalam kondisi masih kecil alias belum baligh. Maka jika sudah baligh tidak dapat dikatakan '”Yatim” lagi. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang menceritakan bahwa Ibnu AbbasR.Apernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan seseorang disebut yatim. Ibnu Abbas menjawab:

كَتَبْتَ تَسْأَلُنِي عَنِ الْيَتِيمِ مَتَى يَنْقَطِعُ عَنْهُ اسْمُ الْيُتْمِ وَإِنَّهُ لَا يَنْقَطِعُ عَنْهُ اسْمُ الْيُتْمِ حَتَّى يَبْلُغَ وَيُؤْنَسَ مِنْهُ رُشْدٌ

"Kamu bertanya kepada saya tentang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu? Sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim),[4]

Adapun ciri ciri orang yang sudah baligh, antara lain :

1.   Sudah keluar mani, baik karena mimpi basah atau yang lain.

2.   Sudah berumur 15 tahun dengan standar tahun hijriyyah, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

3.   Datangnya Haidl ketika seorang perempuan minimal berusia 9 tahun.[5]

Jika salah satu dari ketiganya terjadi pada anak yatim, maka status keyatimannya akan hilang dan segala hal yang berkaitan dengan nama “yatim” seperti bantuan dan lain lain, harus dilepaskan dan berjalan menjadi orang yang lebih dewasa.

Kedudukan anak yatim

Ada beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan betapa mulianya anak-anak yatim di mata Allah dan Rasul-Nya. Mereka mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak yang wajar yang masih memiliki kedua orang tua. Islam memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa memperhatikan nasib mereka, berbuat baik kepada mereka, mengurus dan mengasuh mereka sampai dewasa.  Islam juga memberi nilai yang sangat istimewa bagi orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah ini dan juga sebaliknya, memberi ancaman bagi yang menyakitinya. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang hal ini. Dalam surat Al-Ma’un misalnya, Allah swt berfirman:

أرأيت الذي يكذب بالدين ، فذلك الذي يدع اليتيم ، ولا يحض على طعام المسكين

“Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim,dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin “ (QS. Al-ma’un : 1-3)

Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin, dicap sebagai pendusta Agama yang ancamannya berupa api neraka.

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman :

فأما اليتيم فلا تقهر ، وأما السا ئـل فلا تنهر

“Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap   pengemis janganlah menghardik”.(QS.  Ad-Dhuha : 9 – 10)

Sedangkan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang keutamaan mengurus anak yatim diantaranya sabda beliau :

أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا (رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان )

Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit  merengganggangkan kedua jarinya.[6]

Dan dari Ibnu Abbas R.A. bahwa Nabi SAW bersabda :

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من قبض يتيما من بين المسلمين إلى طعامه وشرابه أدخله الله الجنة إلا أن يعمل ذنبا لا يغفر له)  سنن الترمذي(

Dari Ibnu Abbas R.A. bahwa Nabi SAW bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.[7]

Demikianlah, ajaran Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada anak yatim dengan memerintahkan kaum muslimin untuk berbuat baik dan memuliakan mereka.

Distribusi Harta yang Dimiliki Anak Yatim

Karena anak yatim adalah anak yang belum baligh, maka mereka tidak boleh atau dilarang mendistribusikan hartanya, baik berupa warisan, shodaqoh ataupun hibah dari para donatur dan orang yang peduli. Posisi anak anak yatim adalah sebagai Mahjur Alaih, yang punya konsekwensi bahwa seluruh harta yang dimilik akan dikelola oleh walinya atau orang yang ditunjuk wali sebagai wakilnya, dengan cara dijaga, diawasi dan ditashorrufkan dengan konsep maslahah.

Harta yang telah resmi menjadi milik mereka harus di kelola secara tepat, dengan menggunakan asas maslahah (kebaikan bagi mereka), baik dengan memberikannya secara bertahap ataupun dikembangkan dengan  asumsi (prasangka yang kuat) bahwa harta mereka akan menghasilkan untung dan bertambah banyak.[8]

Dengan demikian, haram hukumnya memberikan harta mereka kepada selain anak-anak yang disebut “yatim walaupun dalam kondisi miskin atau telah dewasa. Karena pihak pengelola harus menjalankan harta yang diberi donatur sesuai dengan yang dikehendaki, Seperti uang yang diberikan untuk “anak yatim”, maka uang itu tidak boleh diberikan kepada yang lain.[9]Begitu juga, harta tersebut tidak boleh dikembangkan (di perdagangkan misalnya) tanpa pertimbangan yang matang.

Sudah selayaknya pihak pengelola benar-benar berhati hati supaya tidak salah dalam mendistribusikan, karena  itu termasuk dosa besar dan ancaman yang diberikan Allah sangatlah berat.[10]

Allah berfirman dalam surat al An’am 152 antara lain dinyatakan:

وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ اليَتِيْمِ إلاَّ بِالتِّى هِي أحْسَنُ حَتَّ يَبْلُغَ أًشُدَّهُ الآية

Artinya : Dan janganlah kalian mendekati harta anak yati kecuali dengan cara yang lebih baik sampai dia baligh.

Menurut tafsir Jalalain, yang dimaksud dengan hatta yablugho ashuddahu adalah sampai dia baligh. Setelah baligh dan menjadi mukallaf, maka harta mereka baru bisa diserahkan dan dapat di tashorrufkan atau didistribusikan sendiri tanpa ada campur tangan orang lain,

Dari keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa harta anak yatim :

  1. Dapat di distribusikan kepada mereka secara tepat dan benar, baik untuk makan, minum dan kebutuhan lainnya.
  2. Bagi wali ataupun Lembaga harus mengedepankan konsep maslahah untuk anak anak yatim tersebut, bukan maslahah untuk lembaga atau pengurus.
  3. Jika harta atau uang yang diberikan khusus untuk kebutuhan tertentu, maka wali atau lembaga tidak boleh menggunakan untuk yang lain.[11]

 

Zakat dan Shodaqoh bagi Anak Yatim

SebenarnyaZakat adalah ibadah yang ma’lum dan merupakan ijma’ul ummah dalam kewajibannya. Cuma dalam pengelolaan serta distribusi zakat sering salah sasaran. Padahal dalam Al-qur’an juga sudah diterangkan, bahwa yang berhak menerima zakat adalah delapan (8) golongann. Jika kita perhatikan dari kedelapan itu, jelas tidak diemukan nama “yatim” atau “yatama” yang merupakan bentuk jamaknya. Bahkan secara umum, anak anak kecilpun tidak boleh menerima zakat, baik berstatus sebagai yatim ataupun tidak karena mereka semua orang yang tidak bisa mendistribusikan harta miliknya sendiri (mahjur alaih).

Dengan demikian, anak-anak yatim tidak boleh menerima zakat secara langsung karena yang berhak menerimanya adalah wali dari anak tersebut, kecuali mereka sudah dewasa dan masuk dalam salah satu dari delapan golongan.[12]Bisa difahami bahwa ketika anak yatim diberi zakat, maka muzakki (orang yang berzakat) masih belum gugur kewajibannya dan tetap punya tanggungan untuk mengeluarkan zakat. Berbeda dengan shodaqoh, yang merupakan pemberian seseorang kepada orang lain dengan niyat untuk mendekatkan diri pada Allah dan mendapatkan pahala dari-Nya. Maka bersedekah kepada mereka sangat dianjurkan, bahkan pahalanya sangat besar seperti sabda Nabi Muhammad SAW dalam banyak hadits.

Keutamaan Membantu Anak-anak yatim

Sudah maklum bahwa tolng menolong dan saling membantu adalah bagian dari keharusan setiap orang islam terhadap saudaranya sesama islam. Karena semua orang Islam adalah bersaudara dan merupakan satu kesatuan layaknya tubuh manusia, ketika sebagian tubuh sakit maka yang lainpun akan merasakan sakit. Bahkan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits mengatakan bahwa orang islam akan selalu dalam pertolongan Allah selama dia masih mau menolong saudaranya.

Menjadi berbeda dan istimewa, ketika yang ditolong adalah anak-anak yatim, yang secara umum butuh pengawalan, bimbingan dan nafkah dari umat islam, karena mereka sudah kehilangan orang yang mencarikan nafkah dan membimbingnya. Maka dalam agama islam, menolongnya-pun punya nilai lebih dengan pahala yang sangat besar. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda :

أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا (رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان )

Artinya : Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit  merengganggangkan kedua jarinya.

Betapa hebatnya orangyang menanggung anak-anak yatim, hanya terpaut sedikit saja dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas R.A. bahwa Nabi SAW bersabda :

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من قبض يتيما من بين المسلمين إلى طعامه وشرابه أدخله الله الجنة إلا أن يعمل ذنبا لا يغفر له (سنن الترمذي )

Artinya : Dari Ibnu Abbas R.A. bahwa Nabi SAW bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.

 

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abu Hurairoh R.A. hadits yang berbunyi :

 

عن أبي هريرة أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال إمسح رأس اليتيم وأطعم المسكين (رواه أحمد)

Artinya : Dari Abu Hurairoh, bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi saw akan hatinya yang keras, lalu Nabi berkata: usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.[13]

 

Dan hadits dari Abu Umamah yang berbunyi :


عن أبى أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو فى الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه (رواه أحمد )  

Artinya : Dari Abu Umamah dari Nabi SAW berkata: barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan  tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barang siapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia disurga seperti ini, beliau mensejajarkan dua jari-nya.[14]

Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW

من عال ثلاثة من الأيتام كان كمن قام ليله وصام نهاره وغدا وراح شاهرا سيفه في سبيل الله وكنت أنا وهو في الجنة أخوين كهاتين أختان وألصق إصبعيه السبابة والوسطى

Artinya : Barang siapa memelihara tiga orang dari anak-anak yatim, maka dia seperti orang  yang selalu beribadah setiap malam (qiyamul lail), puasa pada siang harinya dan selalu menghunus pedang untuk jihad fi sabilillah. Saya dan dia di surga layaknya saudara, seperti dua jemari ini, mereka berdua bersaudara. Nabi memberi isyarat pada jari telunjuk dan tengah dengan merapatkannya.[15]

Demikianlah, ajaran Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada anak yatim dengan memerintahkan kaum muslimin untuk berbuat baik dan memuliakan mereka. Kemudian memberi balasan pahala yang besar bagi yang benar-benar menjalankannya, disamping mengancam orang-orang yang apatis akan nasib meraka apalagi semena-mena terhadap harta mereka. Ajaran yang mempunyai nilai sosial tinggi ini, hanya ada didalam Islam. Bukan hanya slogan dan isapan jempol belaka, tapi dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi dan kaum muslimin sampai saat ini. Bahkan pada jaman Nabi saw dan para Sahabatnya, anak-anak yatim diperlakukan sangat istimewa, kepentingan mereka diutamakan dari pada kepentingan pribadi atau keluarga sendiri.

Saran

Biar distribusi harta yang diberikan kepada anak-anak yatim tepat sasaran dan lebih fleksibel serta tidak melanggar rambu-rambu agama, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  1. Ditangani oleh orang-orang yang memahami agama dan berhati-hati dalam pengelolaan.
  2. Membuat AD-ART misalnya, yang berkaitan dengan penyerahan anak ke lembaga, sehingga keberadaan lembaga benar-benar menjadi wakil dari wali anak tersebut, sehingga dapat mentashorufkan harta dengan lebih nyaman dan lebih tenang.
  3. Untuk pendistribusian harta biar lebih fleksibel, lembaga dalam pengajuan bantuan bisa di tambah dengan “ permohonan bantuan untuk yatim piatu dan dluafa” dengan memberikan kreteria kreteria dluafa’ yang jelas melalui rapat pengurus.

 

Penutup

Karena pengelolaan harta anak yatim adalah pekerjaan yang sangat mulia serta berbeda dengan yang lainnya, maka dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian sehingga tepat sasaran.

Dengan pengelola yang profesional dan mengedepankan hukum-hukum serta aturan-aturan  agama, insyaAllah pahala besar dari janji-janji Allah dan Rasul-Nya akan diraih. Allahu A’lam bis Showwab.

 


⃰ Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Mansajul Ulum Desa Cebolek, Kecamatan Margoyoso, Pati. Makalah ini disampaikan pada acara ngaji bareng di Masjid Jami’ al-Ma’mur Desa Jepang, KecamatanMejobo, Kudus pada Rabu malam, 1 Maret 2017

 

[1]Sullam al-Taufiq, hal 48

[2]Misbah al-Munir fi ghoribi syarhi al-Kabir, juz 10, hal 476 (Maktabah Syamilah)

[3]Al-Mu’jam al-Wasith, juz II hal 1063, Lisan al-Arab, juz XII hal 45

[4]Shohih Muslim, juz XII hal 313 (al-Maktabah al-Syameela)

[5]Al-Taqrirot al-Syadidah hal 195

[6]Shohih al-Bukhoriy juz XVIII hal 417 ( al-Maktabah al-Syameelah)

[7]Irsyad al-Ibad hal 83

[8]Bughyah al-Musytarsyidin, hal 124

[9]Hasyiyah al-Qolyubiy, juz III hal 104

[10]Irsyad al-Ibad hal 83

[11]Hasyiyah al-Qolyubiy, juz III hal 104

[12]Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro, juz IV hal 79

[13]Musnad Ahmad bin Hambal juz II hal 387

[14]Musnad Imam Ahmad juz 45 hal 127

[15]Sunan Ibnu Majah juz II hal 1214

Kami memiliki 4 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top