Menu

Artikel

Seputar Hukum Jual Beli Online

Jual beli merupakan salah satu cara manusia untuk melengkapi kebutuhan hidupnya. Prinsip dasar dalam jual beli adalah saling ridha. Untuk itu, ditetapkanlah berbagai aturan untuk mewujudkan ridha ini, seperti ijab kabul, mengetahui barang yang akan diperjualbelikan, dan lainnya.

Pada zaman dulu, jual beli dilakukan dengan kehadiran penjual dan pembeli beserta barang yang akan diperjualbelikan. Kalaupun barangnya tidak ada di situ, pembeli sudah pernah melihat barang itu sebelumnya. Sampai di sini, tidak timbul masalah yang berarti.

Seiring dengan perkembangan teknologi, sebagian pedagang ingin memperluas jaringannya dengan cara yang simpel, tanpa mengorbankan banyak biaya dan waktu. Mereka memasarkan barang (produk) dagangannya secara online melalui internet. Pembeli juga tidak perlu repot keluar rumah, untuk memilih barang yang diinginkan, karena telah melihat gambar barang itu di dunia maya.

Di sinilah timbul berbagai masalah, tanpa menafikan banyaknya manfaat yang diterima oleh para pelaku jual beli online. Seperti adanya toko online abal-abal, pengiriman barang yang memakan waktu terlalu lama, barang rusak sebelum diterima pembeli, kecewa karena barang tidak sesuai gambar, hingga sulitnya me-retur barang. Ini contoh nyata dampak negatif jual beli online.

Di antara penyebab utama masalah-masalah di atas, adalah tidak melihat langsung barang yang akan dibeli. Ada perdebatan di kalangan ulama, apakah pembeli harus melihat barang  sebelum akad jual beli, atau tidak.

Syaikh Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), ulama besar madzhab Syafii dari Mesir, menjelaskan dalam kitabnya Kanz ar-Raghibin (juz 2 hal. 164), menurut pendapat yang kuat (qaul adh-har), jual beli barang yang belum pernah dilihat oleh penjual atau pembeli, atau keduanya, hukumnya tidak sah.

Dalil yang dipakai adalah hadits shahih riwayat Muslim, bahwa Nabi SAW melarang jual beli gharar, yakni jual beli yang berpotensi merugikan salah satu pihak. Ketidakjelasan barang yang akan dibeli, karena belum pernah dilihat, tentu memiliki potensi ini.

Pendapat yang lemah (muqabil adh-har), mengatakan, jual beli ini hukumnya sah jika sifat-sifat barang dijelaskan dalam akad. Namun, pembeli dalam hal ini memiliki hak untuk mengembalikan barang itu setelah melihatnya.

Dalil yang dipakai adalah sabda Nabi SAW: “Barangsiapa membeli sesuatu yang belum pernah ia lihat, maka ia memiliki khiyar (hak untuk meneruskan atau membatalkan jual beli) ketika telah melihatnya.”

Imam ad-Daraquthni dan al-Baihaqi, mengatakan, bahwa hadits di atas, lemah. Imam an-Nawawi (w. 676 H) menyebutkan dalam kitabnya, al-Majmu’ (juz 9 hal. 290), bahwa imam asy-Syafii telah mencabut pendapat ini.

Ada pandangan berbeda dari madzhab Hanafi. Syaikh Fakhruddin az-Zaila’i (w. 743 H), salah satu tokoh besar madzhab Hanafi, mengemukakan dalam kitabnya Tabyin al-Haqaiq (juz 10 hal. 330, Maktabah Syamilah): “Seseorang membeli barang yang belum pernah dia lihat, hukumnya diperbolehkan, dan dia punya hak untuk mengembalikan barang itu ketika telah melihatnya.”

Dalil yang dipakai adalah sabda Nabi SAW yang telah disebutkan di atas, yaitu: “Barangsiapa membeli sesuatu yang belum pernah ia lihat, maka ia memiliki khiyar (hak untuk meneruskan atau membatalkan jual beli) ketika telah melihatnya.”

Madzhab Hanafi menggunakan hadits ini sebagai hujjah, meskipun dianggap lemah oleh sebagian ulama. Dengan adanya hak untuk mengembalikan barang setelah melihatnya, maka larangan jual beli gharar tidak berlaku di sini.

Pendeknya, jual beli online yang hanya mengandalkan foto barang (produk) saja, hukumnya diperselisihkan. Ada yang mengatakan tidak sah secara mutlak, ada yang mengatakan sah, dengan catatan pembeli memiliki hak untuk mengembalikan barang setelah melihatnya.

Maka, jika ingin melakukan jual beli online, silakan mengikuti pendapat yang mengesahkan tanpa mengabaikan catatan di atas. Bagi penjual, usahakanlah agar foto yang diunggah benar-benar sesuai aslinya. Jika akhirnya pembeli kecewa karena barang tidak sesuai dengan foto, lalu berniat mengembalikan barang tersebut, penjual wajib menerima pengembalian ini. Wallahu A’lam. (*)

 

Ustadz Moh. Islahul Umam,

Penulis adalah imam Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), ketua Aswaja Center Kudus dan alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum, Pakis, Tayu, Pati.

Kami memiliki 30 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top