Menu

Artikel

Perihal Merayakan Maulid Nabi

Oleh. Ust. Moh. Islahul Umam

Rabiul Awwal (Jawa: Mulud), merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Karena pada tanggal 12 di bulan itu, Nabi sekaligus Rasul yang menjadi panutan dan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al-‘alamin), Muhammad SAW., dilahirkan.

Umat Islam di Indonesia, memperingati kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. itu, dengan menggelar pembacaan Maulid Al-Barzanji di masjid-masjid dan mushalla-mushalla, juga pengajian-pengajian memperingati kelahiran Rasulullah tersebut.

Terkait adanya peringatan-peringatan Maulidur Rasul itu, ada berbagai macam pandangan. Imam as-Suyuthi (w. 911 H) dalam Husnu al-Maqshid fi Amal al-Maulid, menjelaskan, orang yang pertama kali menggelar perayaan maulid adalah Raja Mudhaffaruddin Abu Said Kukburi bin Ali bin Buktikin (w. 630 H), penguasa Irbil -sebuah wilayah di Irak bagian utara- yang terkenal dengan kesalehan dan kedermawanannya.

Mudhaffaruddin Abu Said Kukburi adalah ipar Raja Shalahuddin al-Ayyubi. Ia menggelar perayaan maulid setiap Rabiul Awwal, yang dihadiri oleh para ulama dan sufi. Sebanyak 300.000 dinar ia kucurkan, untuk mendanai kegiatan memperingati Maulid Nabi setiap tahun.  

Boleh atau tidakkah menggelar perayaan Maulid Nabi? Mayoritas ulama memperbolehkan perayaan maulid, karena berisi pembacaan ayat-ayat suci al-Quran, pembacaan kisah Nabi SAW, shalawat, dan juga sedekah. Ini termasuk bid’ah hasanah. Diperbolehkannya perayaan Maulid Nabi ini, dengan syarat tidak ada maksiat dalam pelaksanaannya, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan.

Imam Abu Syamah (w. 665 H), guru imam an-Nawawi, berkata: “Di antara perkara baru yang paling baik di masa kami adalah apa yang dilakukan tiap tahun pada hari kelahiran Nabi SAW, yaitu berupa bersedekah, memakai pakaian bagus dan menampakkan kegembiraan. Di samping membantu fakir miskin, ini juga menunjukkan rasa cinta dan ta’dhim kepada Nabi dan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. atas anugerah-Nya, yakni lahirnya Nabi yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam.”

Pendapat sama dikemukakan al-Hafizh al-Iraqi (w. 806 H), al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), as-Suyuthi (w. 911 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) dan ulama lainnya. Ini juga didukung oleh fatwa yang dikeluarkan Haiah Ulama Sudan, Darul Ifta’ Mesir, Darul Ifta’ Yordania, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, Darul Ifta’ Palestina, Kementerian Urusan Agama dan Wakaf Aljazair, dan lainnya.

Namun ada juga yang tidak sependapat dengan adanya perayaan memperingati Maulid Nabi, antara lain Ibnu Taimiyah (w. 728 H) dan Tajuddin al-Fakihani (w. 734 H). Pendapat Ibnu Taimiyah dan Tajuddin al-Fakihani, ini didukung oleh fatwa yang dikeluarkan Lajnah Daimah Saudi Arabia.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh kalangan yang tidak sependapat dengan perayaan maulid. Pertama, termasuk bid’ah yang dilarang dalam hadits. Mayoritas ulama menjawab alasan ini dengan mengatakan, bahwa bid’ah yang dilarang dalam hadits adalah bid’ah yang tidak didukung oleh dalil atau kaidah agama.

Buktinya, dalam salah satu hadits shahih Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mengada-adakan dalam agama kami apa yang tidak termasuk darinya (tidak termasuk bagian dari agama), maka hal itu ditolak.”

Ini menunjukkan, mengada-adakan sesuatu yang termasuk bagian dari agama karena didukung oleh dalil (kaidah), diperbolehkan. Telah maklum, acara yang ada dalam perayaan maulid, seperti membaca al-Quran, membaca shalawat dan memuji Nabi Saw, didukung oleh banyak dalil. Mengadakan majlis dzikir bersama-sama telah dicontohkan oleh para Sahabat Nabi, seperti disebutkan dalam beberapa hadits. Pendek kata, perayaan maulid tidak termasuk bid’ah yang dilarang.

Kedua, para salafush shalih tidak mengadakan perayaan maulid. Seandainya ini merupakan kebaikan, tentu mereka akan melakukannya. Mayoritas ulama menjawab, ketika Nabi SAW. dan para Sahabat tidak melakukan suatu perkara, ini tidak menunjukkan bahwa perkara tersebut dilarang.

Banyak perkara yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW, namun para Sahabat melakukannya, seperti membukukan mushaf. Banyak perkara yang tidak dilakukan oleh para Sahabat, namun generasi berikutnya melakukannya, seperti menulis kitab yang berisi ilmu agama dan membuat cabang-cabang ilmu.

Banyak pula perkara yang tidak dilakukan para salafush shalih, namun dilakukan oleh generasi belakangan, seperti mendirikan ma’had (pesantren), universitas dan sejenisnya. Ini menunjukkan bahwa apa yang tidak dilakukan oleh generasi masa lalu, tidak berarti dilarang dilakukan oleh generasi berikutnya, termasuk perayaan maulid.

Ketiga, mengkhususkan suatu ibadah yang mutlak (seperti membaca al-Quran, shalawat dan sedekah) pada waktu, tempat, jumlah atau cara tertentu, adalah termasuk bid’ah. Para ulama pun menjawab, bahwa masalah mengkhususkan suatu ibadah yang mutlak dengan waktu, tempat atau jumlah tertentu merupakan masalah yang diperdebatkan sejak dulu.

Mayoritas ulama mengatakan, mengkhususkan ibadah yang mutlak, diperbolehkan dengan dua syarat: Pertama, tidak meyakini bahwa pengkhususan ini merupakan sunnah Nabi; Kedua, pengkhususan ini tidak terbentur dengan nash (dalil) yang melarangnya, seperti hadits yang melarang mengkhususkan hari Jum’at dengan puasa.

Selama tidak terbentur dengan nash yang melarangnya, maka pengkhususan ini diperbolehkan. Umat Islam yang merayakan maulid pada hari atau bulan tertentu, tidak meyakini bahwa itu merupakan sunnah Nabi, dan perayaan ini juga tidak terbentur dengan nash yang melarangnya, sehingga diperbolehkan.

Kesimpulannya, perayaan maulid merupakan masalah yang diperdebatkan, dan alasan-alasan yang digunakan untuk menolak perayaan maulid, kurang kuat. Maka, mayoritas ulama memperbolehkan dan mayoritas kaum Muslimin dari Timur sampai Barat melakukannya.

Bagi yang tidak ingin melakukan, tidak perlu mempermasalahkan. Tetapi yang terpenting kemudian, adalah jangan sampai masalah ini dan masalah sejenisnya, sampai menjadikan umat Islam terpecah belah. Wallahu A’lam. (*)

 

Ust. Moh. Islahul Umam,

Penulis adalah imam Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), Ketua Aswaja Center Kudus dan alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum, Pakis, Tayu, Pati.

Kami memiliki 16 tamu online

UMK DI GOOGLE MAP

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 43.1%
Warna - 16.5%
Menu - 11.8%
Tata Letak - 23.3%
Tidak Ada - 5.3%

Total votes: 399

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum

Manajemen

Pendidikan Dasar

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top