Artikel

Menyoal Rabu Wekasan

Oleh Ust. Moh. Islahul Umam

 

Dalam tradisi Jawa, Rabu terakhir pada bulan Shafar (Jawa: Sapar), dikenal dengan Rabu Wekasan (Pungkasan). Ini adalah hari biasa, sebagaimana hari-hari pada umumnya. Bukan ‘hari sial’, seperti dipahami oleh sebagian orang. Sial atau merugi itu berada pada hari di mana seseorang dimurkai Allah SWT., karena melakukan maksiat.

Namun dalam menyambut Rabu Wekasan itu, sebagian kaum muslimin melakukan shalat sunnah dan berdo’a memohon kepada Allah agar dijauhkan dari berbagai malapetaka. Ini didasarkan pada keterangan sebagian ulama, seperti imam Ahmad bin Umar ad-Diyarbi (W 1151 H/1738 M) dalam Fath al-Malik al-Majid yang masyhur dengan Mujarrabat-nya.

Dia berkata: Sebagian dari ulama ahli makrifat menyebutkan, bahwa dalam setiap tahun akan turun 320.000 bala’ (malapetaka). Semuanya terjadi (diturunkan) pada Rabu terakhir bulan Shafar. Maka hari itu menjadi hari yang paling berat. Barang siapa pada hari itu melakukan shalat (sunnah) sebanyak empat rakaat, dalam tiap rakaat membaca surat al-Fatihah 1 kali, al-Kautsar 17 kali, al-Ikhlas 5 kali, al-Falaq 1 kali dan an-Nas 1 kali, lalu berdo’a, maka Allah akan menjaganya dari semua bala’ tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu dikaji dalam masalah ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pertama; informasi bahwa pada Rabu Wekasan turun ratusan ribu bala’, adalah informasi tentang sesuatu yang ghaib.

Perlu dipahami, bahwa informasi tentang sesuatu yang ghaib, wajib dipercaya jika didasarkan pada dalil yang kuat, seperti informasi tentang adanya surga, neraka, hisab, timbangan amal, jin, setan dan sebagainya. Jika tidak ada dalil yang kuat maka tidak wajib dipercaya.

Banyaknya bala’ yang diturunkan pada Rabu Wekasan, tidak ditemukan dalil kuat yang mendasarinya, sehingga informasi ini tidak wajib dipercaya. Informasi ini didasarkan pada ilham atau sejenisnya, seperti kasyaf.

Dalam kajian ilmu ushul fiqh, ilham maupun kasyaf tidak bisa dijadikan hujjah. Memang ada hadits shahih riwayat Muslim (hadits nomor 3758) yang menyebutkan, bahwa dalam satu tahun ada satu malam di mana pada malam itu waba’ (penyakit) diturunkan, tetapi tidak disebutkan malam apa dan berapa jumlahnya.

Pendeknya, informasi mengenai turunnya bala’ pada Rabu Wekasan, tidak wajib dipercaya. Mau percaya boleh, karena isi informasi tersebut tidak mustahil dan tidak bertentangan dengan syara’. Tidak percaya, juga boleh.

Kedua; perihal shalat sunnah empat rakaat pada hari tersebut. Para ulama menjelaskan, ada jenis shalat sunnah yang bisa dilakukan kapanpun, siang maupun malam, kecuali pada waktu larangan. Misalnya adalah shalat sunnah mutlak atau shalat hajat.

Maka jika ingin melakukan shalat sunnah pada Rabu Wekasan, lakukanlah dengan niat shalat sunnah mutlak (dengan niat: ushalli rak’ataini lillahi taala), atau dengan niat shalat hajat (dengan niat: ushalli sunnatal hajat rak’ataini). Jika dilakukan dengan niat shalat Rabu Wekasan, tidak diperbolehkan karena tidak ada dalilnya.

Lalu, bagaimana hukumnya melakukan shalat sunnah mutlak atau shalat hajat pada Rabu Wekasan saja, bukan pada hari lainnya?

Melakukan shalat sunnah mutlak atau shalat hajat pada Rabu tanpa meyakini bahwa shalat sunnah tersebut diperintahkan secara khusus oleh agama pada hari itu, hukumnya diperbolehkan. Yang dilarang, adalah meyakini disunahkannya shalat pada Rabu Wekasan secara khusus, karena tidak ditemukan dalilnya.

Ini seperti orang yang rutin melakukan shalat Ashar pada pukul 4 sore, bukan pada waktu yang lain sebelum Maghrib, karena baru sampai rumah setelah seharian bekerja. Ia rutin melakukannya, tanpa meyakini bahwa shalat Ashar diperintahkan untuk dilakukan pada pukul 4 sore. Tentu ini diperbolehkan.

Mengenai bacaan surat setelah al-Fatihah, tidak ada aturan khusus tentang hal ini dalam shalat sunnah mutlak atau shalat hajat. Membaca surat apapun, berapa kalipun tidak dilarang, dengan syarat jangan meyakini disunahkannya membaca surat-surat tersebut secara khusus dalam shalat ini.

Ketiga; tentang do’a. Tidak ada larangan untuk berdo’a, bahkan dianjurkan untuk berdo’a kepada Allah tanpa batasan waktu, baik pada Rabu atau hari lainnya, baik dengan do’a dari Nabi, dari para ulama maupun do’a buatan sendiri. Maka, diperbolehkan berdo’a dengan do’a tertentu pada Rabu Wekasan, tanpa meyakini bahwa itu diperintahkan secara khusus oleh agama pada hari tersebut, dan tanpa menisbatkan do’a tersebut kepada Nabi SAW.

Keempat; sebagian ulama menganjurkan membaca surat Yasin 1 kali pada hari tersebut, dan ketika sampai pada ayat salamun qaulan min rabbin rahim, ayat ini dibaca sebanyak 313 kali, lalu membaca do’a.

Membaca surat Yasin tanpa meyakini bahwa hal itu diperintahkan secara khusus oleh agama pada hari tersebut, adalah diperbolehkan. Mengulang-ulang ayat atau surat tidaklah dilarang. Al-Habib Abdurrahman Masyhur Baalawi (W 1320 H) dalam kitabnya Ghayah Talkhis al-Murad di halaman terakhir mengatakan, ‘’Tidak ada larangan dalam mengulang-ulang ayat atau surat. Ini tidak termasuk bid’ah yang tercela.”

Kelima; perihal membuat air salamun pada hari tersebut dengan menulis tujuh ayat yang memuat kata salamun pada sebuah wadah atau kertas, lalu melarutkannya dengan air dan meminumnya, tidak dilarang.

Menggunakan ayat untuk memperoleh keselamatan dari Allah jelas diperbolehkan. Menggunakan air sebagai media juga diperbolehkan. Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya (hadits nomor 3387), bahwa Nabi SAW pernah mengobati Tsabit bin Qais RA dengan membaca do’a dan menggunakan air.

Kesimpulan dari penjelasan di atas, melakukan amalan-amalan pada Rabu Wekasan adalah pilihan. Yang ingin melakukan, silahkan melakukan sesuai aturan, sedang yang tidak ingin melakukannya, tidak perlu mempermasalahkan. Wallahu A’lam.

 

Ust. Moh. Islahul Umam,

Penulis adalah imam Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), Ketua Aswaja Center Kudus dan alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum, Pakis, Tayu, Pati.