Artikel

Merawat Kerukunan Umat

Oleh: Ustadz Moh. Islahul Umam

Indonesia sebagai negara majmuk dengan penduduknya yang heterogen, adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Beragam agama dan keyakinan ada di negeri ini, kendati Islam menjadi agama mayoritas yang dipeluk rakyatnya.

Keberagaman dan perbedaan keyakinan ini, menjadi kekuatan tersendiri, apabila semuanya warga negara dengan keyakinan (agama)-nya masing-masing, saling menghargai dan menjaga kerukunan, sehingga negara damai dan aman. Dengan begitu, kerukunan beragama menjadi pilar penting bagi kuat dan jayanya negeri ini.

Oleh karena itu, masing-masing umat bergama mestinya menyadari akan pentingnya kerukunan ini, yakni dengan saling menjaga agar orang lain tidak tersinggung. Masing-masing harus bisa menjaga lisan, tangan, serta tulisannya demi kerukunan dan persatuan Indonesia.

Dalam ranah khilafiyah (perbedaan pendapat), rasa saling menghargai pendapat orang lain harus dikedepankan, karena masing-masing tentu memiliki dalil dan argumen atas pendapatnya. Jangan mudah menyesatkan, menuduh bid’ah, apalagi menuduh syirik dan kafir kelompok lain. 

Beberapa waktu terakhir ini, ‘goncangan’ yang mengancam kerukunan umat, menjadi pemandangan yang sangat memprihatinkan, akibat tersulut oleh berbagai ‘isu’ yang muncul di tengah Pilkada di berbagai daerah di Indonesia, sehingga memunculkan ketegangan di masyarakat.

Ketegangan akibat berbagai isu yang berkembang atau dikembangkan, ini sampai memunculkan guyonan: “Kalau saja dulu Belanda mengetahui keadaan kaum Muslimin Indonesia ketika terjadi Pilkada, mereka tak perlu bersusah-susah mengadu domba dengan berbagai cara. Cukup mengadakan Pilkada tiap tahun, maka perpecahan akan timbul’’. Perpecahan terjadi karena ketidakdewasaan dalam menyikapi perbedaan dan isu yang berkembang.

Padahal, Islam telah memberikan pelajaran yang demikian jelas tentang bagaimana menjaga kerukunan. Dalam salah satu hadits Rasulullah Muhammad SAW., bersabda: hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima, mengucapkan salam saat bertemu, menjenguknya jika sakit, mengantarkan jenazahnya jika meninggal, memenuhi undangannya saat dia mengundang dan mendoakan saat dia bersin.’’

Merujuk pada hadits di atas, jika hak-hak ini dipenuhi, maka kerukunan akan terjaga meskipun masyarakat berbeda latar belakang agama, kelompok dan pahamnya. Hadits menegaskan, ‘’Kaum Muslimin itu ibarat satu bangunan, yang bagian satu dengan lainnya saling menguatkan’’.

Maka, semestinya bila ada saudara kita yang dianggap sesat, ajaklah mereka yang suka menganggap sesat orang lain ke jalan yang benar, tanpa kekerasan dan tanpa memusuhi. Ajak mereka dengan dialog yang cerdas. Wajadilhum billati hiya ahsan.

Dialog cerdas pernah dipraktikkan Ibnu Abbas RA saat kaum Khawarij hendak melakukan pemberontakan kepada Khalifah yang sah pada saat itu, Ali bin Abu Thalib karramallahu wajhah, sebagaimana dikisahkan dalam Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi (W 597 H).

Ibnu Abbas berkata: “Ketika kaum Khawarij sepakat melakukan pemberontakan, mereka berkumpul di suatu tempat. Jumlah mereka sekitar 6.000 orang. Aku berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Amirul Mu’minin, tundalah shalat Dhuhur hingga cuaca tidak terlalu panas, mungkin aku bisa berbicara dengan mereka!”.

Ali berkata: “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu”. Aku berkata: “Jangan khawatir”Aku memakai pakaian yang bagus dan berdandan. Aku sampai di daerah mereka pada waktu tengah hari, saat mereka sedang makan.

Mereka berkata: “Selamat datang, wahai Ibnu Abbas. Apa yang membuatmu datang kemari?”. “Aku datang mewakili para sahabat Muhajirin dan Anshar, dan mewakili anak paman Nabi (Ali bin Abi Thalib). Merekalah yang hidup bersama Nabi. Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah mereka. Merekalah yang paling memahami makna al-Qur’an. Tak seorang pun dari kalian termasuk sahabat Nabi. Akan aku sampaikan perkataan mereka yang lebih benar dari perkataan kalian”.

Sebagian dari mereka kemudian mencoba menahanku untuk berbicara.Aku berkata lagi: “Jelaskan kepadaku apa alasan kalian memerangi para sahabat dan Khalifah Ali?”. Mereka menjawab: “Ada tiga hal. Pertama; ia telah menjadi hakim dalam urusan Allah, padahal Allah SWT. berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah” (QS. Al An’am: 57, Yusuf: 40). Betapa beraninya seseorang menetapkan hukum!

Kedua; ia memimpin perang (melawan kubu Aisyah RA.), namun tidak menawan tawanan dan tidak mengambil ghanimah (harta rampasan). Padahal jika memang ia memerangi orang kafir, maka halal tawanannya. Namun jika yang diperangi adalah orang mukmin, maka tidak halal tawanannya dan tidak boleh diperangi”. Ketiga; ia telah menghapus gelar Amirul Mu’minin (pemimpin kaum mukmin) dari dirinya, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin (pemimpin kaum kafir)!”

“Masih ada lagi alasan lainnya?”

“Itu sudah cukup,” jawab mereka.

Aku kemudian berkata: “Jika aku membacakan Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya yang akan membantah pendapat kalian, apakah kalian akan rujuk (taubat)?” yang kemudian dijawab: “Ya”.

Aku berkata: “Adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib telah menetapkan hukum dalam perkara Allah, maka aku akan membacakan ayat yang menegaskan bahwa Allah telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam masalah ukuran denda membunuh binatang buruan saat ihram.

Allah SWT. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu‘ (QS. Al-Maidah: 95)”.

Dalam ayat lain ditegaskan:“Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (penengah yang memberi putusan) dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga wanita” (QS. An-Nisa’: 35). Dalam ayaut ini Allah telah memerintahkan untuk berhukum kepada manusia, dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai.

Adapun perkataan kalian bahwa Ali berperang melawan ‘Aisyah, namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah. Saya bertanya, apakah kalian akan menawan ibu kalian, Aisyah? Apakah ia halal bagi kalian sebagaimana tawanan lain halal bagi kalian? Jika kalian katakan bahwa ia halal bagi kalian, sebagaimana halalnya tawanan lain, maka kalian menjadi kafir. Atau jika kalian katakan ia bukan ibumu, kalian juga kafir. ‘’Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin)’’. (QS. Al-Ahzab: 6). Maka kalian berada di antara dua kesesatan, coba kalian pilih salah satu!”

Sedang perkataan kalian bahwa Ali menghapus gelar Amirul Mu’minin darinya, bukankah Nabi SAW dalam perdamaian Hudaibiyah membuat perjanjian dengan kaum musyrikin dan berkata kepada Ali: “Tulislah, wahai Ali: ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”. 

Namun kaum musyrikin berkata, “Tidak! Andai kami percaya bahwa engkau Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu”. Maka Baginda Rasulullah bersabda, “Kalau begitu hilangkan tulisan Rasulullah, wahai Ali. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa Aku adalah Rasul-Mu. Hapus saja, wahai Ali. Dan tulislah, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”.

Nabi Muhammad SAW tentu lebih utama dari Ali, namun Baginda nabi sendiri pernah menghapus gelar ‘Rasulullah’ dan penghapusan gelar tersebut ketika itu tidak menghapus kenabian beliau. Apakah alasan kalian sudah terjawab dengan ini? Mereka menjawab, “Ya”.

Setelah kejadian itu, Ibnu Abbas berkata: “Maka bertaubatlah sekitar 2.000 orang dari mereka. Sisanya tetap memberontak. Mereka akhirnya terbunuh dalam kesesatan mereka.” Ya, dialog cerdas seperti inilah yang harus kita tiru saat ada saudara yang tersesat, bukan memusuhi, mengusir, apalagi mengalirkan darahnya. Wallahu A’lam. (*)

 

Ustadz Moh. Islahul Umam,

Penulis adalah imam Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK) dan ketua Aswaja Center Kudus. Sebagian dari tulisan ini dimuat di Rubrik ''Oase'' Suara Merdeka, Jum'at, 25 November 2016.                       

(http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/merawat-kerukunan-umat/)