Lawan Hoax, Masyarakat Diminta Jadi Pembaca yang Cerdas

UMK - Derasnya informasi serta adanya kemudahan untuk mengaksesnya, meunculkan dampak ganda. Betapa tidak, di samping masyarakat lebih mudah mencari dan mendapatkan informasi secara cepat, di sisi lain mereka akan kesulitan membedakan akurat atau tidaknya sebuah informasi, karena banyaknya beredar berita bohong (hoax) sekarang ini.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK), Dr. Sukresno SH. M.Hum, menilai, merebaknya hoax bukanlah fenomena baru. Dan saat ini, permasalahan terkait hal itu, secara tegas termaktub dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Hanya istilahnya saja yang baru. Terkait dengan pemberitaan-pemberitaan fiktif, apalagi yang cenderung berbau fitnah dan bohong, Pemerintah telah mengaturnya dalam Pasal 28 ayat 1 UU ITE Tahun 2008,’’ jelasnya.

Untuk menyikapi penyebaran berita hoax yang marak, khususnya di media sosial, Sukresno berpesan agar publik berhati-hati dengan meneliti validasinya. “Harus teliti secara detil jika mengakses informasi, apalagi jika hendak menyebarluaskannya,’’ tuturnya.

Pesan Sukresno ini sangat beralasan, karena ada sanksi bagi orang yang menyebarkan berita hoax. ‘’Disebutkan dalam Pasal 28 ayat 1 UU ITE, bahwa setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan sehingga mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik, bisa dikenai sanski, berupa denda atau penjara,’’ urainya.

Pakar hukum UMK yang juga Wakil Rektor IV, Dr. Subarkah SH. M.Hum, berharap masyarakat bisa menjadi pembaca yang cerdas seiring dengan maraknya berita hoax yang tersebar. ‘’Jadilah pembaca yang cerdas, karena jika tidak, bisa merugikan diri sendiri. Sebab, hanya dengan menyebarkan berita hoax saja, sudah berpotensi berhadapan dengan UU ITE,’’ katanya.

Salah satu penggiat seni di Kabupaten Kudus, Salim sabendino, mengemukakan, kebebasan dalam berekspresi memiliki dampak yang sangat luar biasa. “Berita benar (valid) saja, belum tentu berimbas baik, apalagi  berita hoax,’’ paparnya.

Ia pun berpendapat, bahwa kebebasan berekspresi melalui berbagai media, termasuk media sosial, mesti memperhitungkan dampaknya. “Peran media massa memiliki peran yang sangat penting dalam memerangi berita hoax,’’ ujarnya. (Wahab-Portal)