Rektor UMK Dampingi Syeikh Mahir ‘Sowan’ ke Yanbu’ul Qur’an

KUDUS – Dalam lawatannya ke Kabupaten Kudus pada 19-21 Januari lalu, cendekiawan muslim asal Syiria, Dr. Syeikh Mahir Hasan Al-Munajjid tidak hanya mengisi halaqah di Universitas Muria Kudus (UMK) saja, melainkan memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan lain.

Kegiatan itu adalah berziarah me makam Kanjeng Sunan Kudus dan Sunan Muria, menjadi narasumber halaqah di Pondok Pesantren Nashrul Ummah di Mejobo bersama Dr. KH. Abdul Ghofur Maimun, serta ‘sowan’ ke ke Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an.

Kesempatan ‘sowan’ ke Yanbu’ul Qur’an ini, selain didampingi Dr. KH. Ahmad Faiz LC. MA., turut serta pula Rektor UMK Dr. H. Suparnyo SH. MS. dan Wakil Rektor IV UMK Bidang Kerja Sama yang juga Wakil Ketua PCNU Kabupaten Kudus, Dr. H. Subarkah SH. M.Hum.

Di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Syeikh Mahir Hasan Al-Munajjid diterima oleh KH. Mc. Ulinnuha Arwani, KH. M. Ulil Albab Arwani, dan masyayikh lain, yang kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah.

Sambutan hangat nampak dari tuan rumah dengan kedatangan Syeikh Mahir. ‘’Ini pertama kalinya Saya ke Kudus,’’ ujar Syeikh Mahir dengan Bahasa Arab yang kemudian dibalas KH. Mc. Ulinnuha Arwani, ‘’Setelah ini, semoga nanti sering ke sini (Kudus-Red),’’ sembari tersenyum. Tak berselang lama, kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Usai jamuan makan malam itu, Mc. Ulinnuha Arwani, KH. M. Ulil Albab Arwani dan masyayikh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an lain, mengajak Syeikh Mahir bersama mengunjungi Pondok Tahfidz Anak Yanbu’ul Qur’an.

Ratusan santri sudah menunggu masyayikh yang melakukan ‘kunjungan dadakan’ malam itu. Sekitar pukul 20.00 WIB, muhadlarah dimulai. Acara dibuka dengan wasilah yang dipimpin KH. Mc. Ulinnuha Arwani.

Selanjutnya, empat santri cilik membaca ayat-ayat al-Qur'an bil ghaib secara tartil. Masysyikh dan para santri lain yang hadir, menyimak bagusnya hafalan santri-santri cilik itu. Setelah itu, Syeikh Mahir berkenan menguji hafalan para santri tersebut.

Syeikh Mahir, dalam ‘ujian dadakan’ tersebut membacakan satu ayat, kemudian meminta santri cilik melanjutkannya. Demikian dilakukan secara berurutan, dan para santri mampu menyelesaikan ujiannya dengan baik.

‘’Mumtaz, mumtaz. Masyaallah. Padahal jika saya yang ditanya (diuji), belum tentu bisa,’’ katanya merendah. ‘’Orang yang hafal al-Qur’an itu punya kelebihan dan keutamaan. Anda sangat beruntung (bisa belajar-Red) di pondok ini, yang diasuh KH Ulinnuha dan KH Ulil Albab,’’ ungkapnya. (Rosidi-Portal)