Mencoba Menjadi Negara Yang Berdikari

Hari kebangkitan bangsa yang jatuh pada di jadikan moment untuk mengadakan berbagai kegiatan, yang tentunya berguna bagi kehidupan Indonesia kedepan. Tak terkecuali Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK). Kegiatan diskusi pada hari Rabu, 27 Mei kali ini sangat berbeda dengan yang lain. Pasalnya, seminar kali ini mengundang dua jendral, Saurip dan artis ternama Dedy Mizwar serta Dr. Yustiani selaku pakar ekonomi.

Kali ini, sang jendral Naga Bonar bukannya membahas tentang dunia perfilman. Akan tertapi membahas tentang bagaimana memajukan negeri ini menjadi lebih makmur, karena menurut dia, pemimpin saat ini atau yang menjadi presiden mendatang belum mempunyai konsep jelas kemanakah Indonesia dibawa.

Sehingga memerlukan pemimpin yang mempunyai kecerdasan tinggi dan visi misi jelas. karena, kalau diibaratkan Indonesia ibarat air, ketika airnya keruh maka hasilnya pun akan keruh, tutur mantan capres independen ini.

Selain itu, kampanye-kampanye yang terjadi saat pemilu kali ini, tak ubahnya seperti jualan janji-janji yang tidak bisa terukur. Pasalnya, dengan janji-janji tersebut rakyat diajak manipulasi tanpa disadarinya, seperti suap untuk mencontreng salah satu calon dandisuruh untuk menyontreng orang yang tidak dikenal.
Ketika ini terjadi, menurut dia, jangan harap akan muncul pemimpin-pemimpin yang mempunyai akhlak mulia dan bekerja dengan baik. jika seseorang bekerja karena kekuasaan, maka jangan berharap untuk bisa memajukan bangsa, tambahnya.

Selain sistem yang semrawut, moral pemimpin negeri ini pun semakin terperosok ke titik terendah. Dr. Yustiani menceritakan hal tersebut, ketika musibah tsunami yang terjadi di Indonesia, banyak bantuan yang mengucur ke Indonesia. Namun, karena bertele-telenya birokasi, institusi yang ingin membantu enggan untuk memberikannya ke Indonesia dan lebih memilih menitipkannya kepada Thaksin (Perdana Menteri Thailand) untuk mengurusinya.

Karena saat itu, bantuan harus masuk ke Bappenas, bagian keuangan negara baru diserahkan ke korban tsunami. Padahal bantuan tersebut harus segera diserahkan, selain itu mereka takut bantuannya dikorup ketika harus memasuki instansi pemerintah, tutur wanita yang pernah menjadi konsultan ekonomi Thaksin ini. Akhirnya, karena Thaksin lengser 2005 dan bingung dana bantuan tersebut akan dikemanakan, bantuan pun diserahkan ke Indonesia. Namun, atas bujuk rayu IMF, akhirnya dana yang seharusnya diserahkan untuk korban tsunami,malahan untuk membayar hutang kepada IMF. saya yang saat itu bersama Thaksin merasa malu, tambahnya.

Oleh karena itu, ketiga orang ini, menawarkan sebuah konsep negara yang diberi nama negeri Merak (Mengutamakan Rakyat). Yang mana negeri ini akan berupaya untuk memakmurkan rakyat dengan berbagi cara yang sudah di konsep ketiga orang ini. masak kita kalah dengan Thailand, disana, kita susah mencari orang susah. Sedangkan disini, kebalikannya,tutur sutradara film kiamat sudah dekat ini. Salah satu konsep tersebut adalah menjadikan sebuah negara menjadi semacam corporate untuk dapat bersaing dengan perusahaan multinasional. Pasalnya globalisasi yang terus berjalan, menuntut kita untuk melakukan hal tersebut. dan Malaysia sudah melakukannya, tambah wanita berkaca mata ini.

Selain itu, dia juga mencanangkan konsep Satu Desa Satu Produk yang sudah terbukti membantu perekonomian rakyat Thailand. Ketika sudah berjalan, maka negara harus memberikan jaminan pasar bagi produk tersebut. di Thailand produk ini bahkan diberikan tempat khusus di bandara, jelasnya.
Dengan perekonomian dan kepemimpinan yang baik, maka negeri ini tidak akan kehilangan jati dirinya. Sehingga, negeri ini bangkit menjadi Indonesia yang berdikari dan bermartabat di hadapan dunia internasional. Itulah tujuan yang hendak kami capai, harap Agung Listiyo selaku ketua panitia (Agus-portal UMK).