UMK- Program Studi Bimbingan Konseling  (Progdi BK) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) mendapat peringkat akreditasi B, dan berlaku sejak 2011 hingga 2015.

Hal itu merujuk hasil akreditasi terbaru oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang dilakukan sejak akhir 2010. Keputusan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) BAN-PT Nomor 044/BAN-PT/Ak-XIII/S1/II/2011, tertanggal 4 Februari 2011.

“Keputusan berlaku hingga lima tahun ke depan. Jadi, sejak tangal 4 Februari 2011 hingga 4 Februari 2015 Progdi BK mendapat peringkat B”, kata Kepala Prodi BK, Drs. H. Sucipto, M. Pd. Kons., Senin (29/03) di Kudus.

Menurut Sucipto, peringkat tersebut menjadi modal Progdi BK untuk mewujudkan rencana mendirikan program profesi konselor atau program pendidikan guru profesi guru BK.

Selaku kepala Progdi, Sucipto mengatakan, lega atas hasil akreditasi tersebut. Progdi BK memiliki ambisi untuk meningkat program yang diusulkan oleh asesor sehingga dapat meraih predikat yang lebih tinggi.

“Untuk meningkatkan predikat, Kami akan melaksanakan tiga program yang paling mendesak,” katanya.

Ketiga program tersebut, papar Sucipto, adalah studi lanjut ke jenjang strata tiga (S3) bagi dosen, melengkapi fasilitas pengembangan laboratorium, serta pengembangan proses belajar mengajar (PBM) dengan melakukan update kurikulum terbaru.

Pada masa akreditasi BAN-PT sebelumnya, Progdi BK FKIP telah menyandang  menyandang peringkat B. (Farih/Hoery-Portal)

 

UMK – Banyak orang tertarik untuk menjadi pengusaha sukses melalui kegiatan bisnis dan wirausahanya. Akan tetapi, mereka tidak siap menghadapi persaingan dan hambatan-hambatan lainnya, sehingga berakhir dengan putus semangat di tengah jalan. Bisnis dan usaha berakhir dengan kegagalan.

Dalam seminar bertajuk  “The Spirit to be Great Entrepeneur” di Univeritas Muria Kudus (UMK), Rabu (30/3) siang, trainer dan motivator terkenal dari Tum Desem Waringin, Christian Adrianto mengaku, dirinya sering menemukan orang yang takut berwirausaha karena merasa tidak berbakat.

“Langkah seperti itu salah.  Dunia wirausaha tidak mengenal menyerah dan bakat,” tegasnya kepada mahasiswa dan masyarakat di sekitar Kudus yang menjadi perserta. Dalam setiap masalah pasti ada peluang dan solusi. Oleh karena itu, menurutnya, menusia sukses akan disebut sukses apabila mereka dapat mengubah kegagalan menjadi kesuksesan. Hal itu juga berlaku dalam dunia wirausaha.

Christian mengatakan, kegagalan bagi wirausahawan adalah cara belajar mereka untuk meraih kesuksesan. Sementara bakat hanya menyumbang satu persen dari kesuksesan. “All skills is learnable. Semua skill dapat dipelajari,” katanya.


UMK- Universitas Muria Kudus (UMK) memenangkan Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) B dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2011.

Hal itu merujuk Surat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nomor 368/E/T/2011, berisi  hasil evaluasi akhir dalam bentuk kunjungan Dirjen Dikti terhadap usulan Program PHKI Tahun Anggaran 2011. Di mana dari sebanyak 78 proposal perguruan tinggi negeri/swasta (PTN/S) yang lengkap, UMK bersama 28 PTS dan tujuh PTN dinyatakan sebagai pemenang.
Humas UMK, Zamhuri mengatakan, Program PHKI B dimaksudkan sebagai upaya peningkatan akses, mutu, dan relevansi lulusan. Program studi yang terlibat pada kegiatan tersebut adalah Manajemen S1, Agroteknologi S1, Bimbingan dan Konseling S1, Ilmu Hukum S1, dan Sistem Informasi S1.

Program PHKI B ini, menurut Zamhuri, antara lain diusulkan untuk pembiayaan program; 1)Peningkatan kualitas dan akses mahasiswa baru, 2)Optimalisasi program pembelajaran berbasis kompetensi, dan 3)Peningkatan daya saing lulusan. “Kita akan terus memacu kualitas UMK agar lebih baik dan berdaya saing,” tegasnya. Dana hibah yang diusulkan sebesar Rp 8.989.444.000 untuk kegiatan tahun 2011, 2012, dan 2013.

Ini adalah kali kedua, UMK memperolah pendanaan dari Dikti program PHKI Perguruan Tinggi (PT) Negeri maupun Swasta se-Indonesia. Sebelumnya, jelas Zamhuri, UMK pernah mendapatkan program pembiayaan PHKI A selama 3 tahun pada 2008. “Program berjalan hingga tahun 2010 kemarin,” katanya.

 


UMK – Perguruan Tinggi (PT) berperan mensinergikan Posdaya dengan program pemerintah melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga).
Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono pada Pelatihan Kader Posdaya di Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (22/3) mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam rangka mensinergikan program Posdaya dan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan, Posdaya bertujuan membentuk keluarga yang mandiri dan sejahtera melalui kegiatan-kegiatan utama yang digarap, yaitu lingkungan dan sosial ekonomi. Sementara pemerintah, lanjutnya, juga memiliki target pengentasan kemiskinan.
“Supaya maksimal, program KKN yang diselenggarakan harus memprioritaskan Posdaya yang lemah,” kata mantan Menkokesra ini.
Dalam seminar Pelatihan Kader Posdaya di Universitas Muria Kudus (UMK), Haryono mengatakan, pada awalnya di Jogjakarta, Universitas Gajah Mada (UGM) membangun 12 Posdaya. Karena melihat konsepnya sederhana dan bermanfaat, akhirnya pemerintah daerah merespon positif dengan memberikan anggaran. “Akhirnya yang berperan tidak hanya pemerintah daerah, tetapi mereka yang merasa mampu pun ikut serta,” tegasnya.