Menurunnya Bursa Efek Indonesia (BEI) dan meningkatnya inflasi Indonesia pada tahun 2011 menimbulkan kecemasan bagi pengamat dan pelaku usaha. Harga cabai yang pernah menembus harga Rp.120.000 ribu/kg bisa mengerek inflasi di Indonesia. Kecemasan serupa dirasakan oleh Febra Robiyanto, pengamat ekonomi, sekaligus staf pengajar dari Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (FE UMK).
Tidak hanya tingginya komoditas tertentu dari barang-barang kebutuhan pokok sebagai penyebab inflasi, menurut Febra, inflasi juga diperparah oleh terjadinya bencana alam diberbagai tempat di Indonesia “Banyak bencana yang menjadikan panen kita terganggu seperti gunung meletus dan banjir, sehingga suplay kebutuhan menjadi berkurang,” tambahnya.

Setidaknya, menurut Febra, ada empat komoditas  yang menjadi penyumbang terbesar terhadap angka inflasi di bulan Januari 2010 yaitu beras, gula pasir, minyak goreng dan cabe merah. Dalam hitungan Badan pusat statistik (BPS), beras saja sudah menyumbang inflasi 0,35%.

Sementara komoditas yang mengalami deflasi antara lain buah-buahan, emas, sandang, daging ayam dan telur. “Dalam laporan BPS banyak barang-barang yang justru deflasi karena ketersediaan barang yang cukup,” terang Febra. Menurut Febra, pemerintah harus bisa memberikan kontrol bagi pangan Indonesia. ”


UMK-Keberadaan Blackberry di Indonesia mulai mendapatkan kritikan. Ini terkait dengan pelanggaran Research in Motion (RIM) selaku memilik Blackberry yang dianggap telah melanggar tidak kurang dari tiga undang-undang Indonesia.  Yakni, UU nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektonik (UU ITE), serta UU nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. “Kami mendukung penuh keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi (MENKOMINFO) Tifatul Sembiring,” ujar  Hera Setiawan, Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (FT UMK).
Menurut Hera keberadaan RIM sudah kelewat batas. Hal ini terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh RIM, terlebih soal server yang tidak ada di Indonesia. “Seharusnya server itu ada di Indonesia karena pemerintah akan lebih leluasa memonitoring dan mengevaluasi keberadan RIM dan juga tidak lupa pajak dari RIM,” jelas Hera.
Alasan RIM tidak mau mendirikan server di Indonesia, tambah Hera,  murni tentang bisnis. RIM beranggapan Indonesia hanya sebuah pasar dan tidak perlu mempunyai pabrik (baca; server) yang membutuhkan biaya besar. “Coba seandainya itu seperti motor yang harus membutuhkan suku cadang dan SDM di Indonesia, pasti RIM akan mendirikannya di Indonesia,” tambah Hera.

 


UMK – Keberadaan situs pornografi yang masih merajarela di Internet Indonesia masih menjadi maslah bagi kebanyakan orang tua. Untuk itu, Program Jurusan Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (Progdi SI FT UMK) mengadakan pelatihan mikrotik guna menjadikan internet sehat di Indonesia pada Selasa (19/01/11) di laboraturium SI FT UMK. “Tujuan diselenggarakan workshop kali ini adalah untuk menjadikan internet sehat di Kudus,” kata Yusrul Hana, ketua panitia.
Peserta dalam workshop yang bekerjasama perusahaan internet pemerintah ini terdiri dari mahasiswa UMK dan masyarakat. Terlihat 40 peserta serius mengikuti workshop ini. “Kami terpaksa menolak mahasiswa yang masih ingin mendaftar karena keterbatasan komputer yang ada di laboraturium yang hanya memuat 40 orang,”terang Yusrul.
Peserta diajari teori mikrotik dan praktik menggunakannya. Yusuf Satyanegara menjadi satu-satunya pemateri dalam workshop ini mengatakan bahwa situs porno masih mudah untuk diakses di Indonesia meski pemerintah sudah memblokir. “Bahkan dengan kecanggihan jaringan internet, situs porno sudah menjalar ke facebook. Sehingga jika tidak diantisipasi sejak dini dikhawatirkan akan mengancam moral gererasi bangsa selanjutnya,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, hingga saat ini akses situs porno masih mudah. Setiap rumah atau orang yang memiliki jaringan internet bisa mengaksesnya. Seharusnya pemerintah bisa memfasilitasi memblokade laman yang bernuansa pronografi, karena sebenarnya upaya  ini sangat murah dan mudah dijalankan oleh siapapun, dengan perangkat lunak melalui Mikrotik.

 


Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (FE UMK) pada akhir tahun 2010 mendapatkan berbagai kado istimewa. Selain tambahan empat dosen yang bergelar doktor, FE UMK juga mendapatkan akreditasi B  untuk Progdi Manajemen. “Kami sejak awal sudah mendapatkan B, mulai sistem lama dengan status  disamakan sampai dengan sistem baru yang menggunakan beberapa komponon penilai baru,” kata Drs. M. Masruri, MM, Dekan FE UMK.
Keputusan Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN PT) tertanggal 12 November 2010 memberikan apresiasi tinggi Progdi Manajemen FE. Lebih dari 1500 mahasiswa belajar di Progdi Manajemen FE UMK. “Dengan perolehan nilai akreditasi B ini mahasiswa dapat berbangga karena tidak mudah dan semua Progdi bisa mendapatkan nilai B, meski itu pergururan tinggi negeri,” tambah Masruri.
Keberhasilan Progdi Manajemen FE UMK tidak lepas dari kerja keras seluruh sivitas akademika terutama pada kegiatan penelitian dan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh Progdi Manajemen. Menurut Masruri banyak dosen manajemen yang melakukan penelitian terutama penelitian di luar kampus dan itu menjadi menambah bobot dalam penilaian akreditasi.
Jika dilihat dari data Evaluasi Program Studi Berdasarkan Evaluasi Diri (EPSBED) kualifikasi pendidikan dosen semuanya sudah pasca sarjana. “Kami masih menunggu lagi dosen lulusan doktor  baik dari dalam maupun di luar negeri,” rinci Masruri.
Hasil akreditasi B ini berlaku selama lima tahun. “Kami akan terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan di FE UMK dengan menambah doktor bahkan guru besar pada tahun-tahun mendatang. Kami berharap pada tahun 2015, FE UMK bisa mendapatkan akreditasi A dengan banyaknya doktor dan semoga sudah ada professor dari FE UMK,” harap Masruri mengakhiri perbincangannya dengan portal UMK. (Harun/Portal)