Tinggalkan Debat Tak Bermutu, Rajut Kebhinekaan

UMK – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan kepada mahasiswa untuk menghadapi tantangan yang terus berubah. Sudah tidak saatnya melakukan debat yang tidak penting. Dia meminta agar mahasiswa berpikir untuk memajukan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan gubernur saat kuliah umum di Universitas Muria Kudus (UMK) kemarin. Kuliah umum tersebut mengambil tema ‘Merajut Kebhinekaan Jawa Tengah’.

Perdebatan yang tidak penting harus dihindari, jangan sampai justru perdebatan tidak penting tersebut menguras energi. Sehingga menghambat kreatifitas mahasiswa. ”Kita tidak perlu debat perkara cebong kampret, atau menguras energi berdebat persoalan dianiayai atau operasi plastik,” katanya kemarin.

Dalam persoalan politik, perbedaan pasti ada, seperti perbedaan politik dirinya dengan gubernur lain yang sama-sama kader partai. Perbedaan tersebut sangat biasa dan tidak perlu dipertentangkan terlalu berlebihan. Jika terus dilakukan, maka akan terus ketinggalan dengan negara lain.

Untuk menjaga kebhinekaan, memang menjadi tugas semua orang, termasuk mahasiswa. Ketika kebhinekaan makin tergerus, maka akan negara diambang kehancuran. Seperti yang terjadi di Syria.

Dirinya mendapatkan cerita pengalaman dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin yang pernah belajar di Syria, kondisi Syria masyarakatnya beragam dan damai. Namun kini porak pranda karena kebhinekaan yang hilang. ”Adanya fitnah antar saudara membuat negara hancur, tentunya di dukung intervensi dari luar,” terangnya.

Sehingga kebhinekaan yang merupakan modal penting bangsa Indonesia harus terus dijaga. Sehingga Indonesia tidak bernasib seperti Syria. Akibat negara Syria porak poranda, banyak anak yang kehilangan orang tuanya, perekonomian hancur dan kemiskinan sudah tidak bisa terhindarkan.

Untuk itu, Ganjar berpesan agar mahasiswa melihat ‘keluar’ untuk menambah wawasan. Sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan nantinya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, gubernur juga melakukan dialog dengan empat mahasiswa UMK. Mereka diberikan pertanyaan sesuai dengan jurusan masing-masing, ada pertanyaan terkait bahaya hoak, korupsi hingga terkait pendidikan.

Sebelum menutup kuliah umum, Ganjar memberikan kuis, mahasiswa diberi waktu 24 jam untuk membuat vlog yang nantinya diuplod dan ditautkan di IG: ganjar_pranowo. Tema video terkait dengan kebhinekaan. ”Nanti akan saya pilih, video terbaik dapat hadiah laptop,” jelasnya.

Sebelum kuliah umum, Ganjar melakukan penanaman pohon khas Kudus di UMK, yakni Jeruk Pamelo, Parijoto dan Duku Sumber. Usai melakukan kuliah umum, Gubernur langsung melanjutkan perjalan menuju Desa Wonosoco untuk melakukan penanaman pohon yang diikuti 2.500 mahasiswa UMK. Selain itu juga ada penandatanganan kerjasama antara UMK, Gubernur dan Pehutani.

Rektor UMK Dr. Suparnyo mengatakan, kuliah umum dilakukan karena mengingat pentingnya memahami kebhinekaan bagi masyarakat, terutama mahasiswa. Dengan kuliah umum tersebut, mahasiswa diharapkan mendapatkan wawasan dari gubernur yang merupakan kepala daerah.

Mahasiswa tentunya harus menjadi salah satu penggeraknya, sehingga memahami sebuah kebhinekaan menajdi penting. ”UMK ada sekitar 10.000 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, dengan kuliah umum ini tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ketika UMK dikehendaki masyarakat untuk menjadi perguruan tinggi, pihaknya cukup siap. Tentunya semua persyaratan akan terus dipenuhi sehingga bisa menjadi pergurun negeri.(Linfokom)