|
Oleh Nailin Nafsihah 2007 032 140 Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMK
Belakangan ini, issu sekolah (bertaraf) internasional sedang menjadi menu kebijakan di kabupaten/kota di Indonesia, termasuk di Kudus. Sekolah dengan label internasional adalah sekolah yang mengadaptasi kurikulumnya dengan standar luar negeri (http://hadori.multiply.com/reviews/item/3). Sekolah berlabel internasional tidak hanya mempersiapkan peserta didik sesuai dengan kebutuhan lokal, namun juga memiliki kemampuan bertaraf internasional (http://www.dispendikkabprob.org).
Setiap kebijakan, tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk dalam hal ini kebijakan perlunya sekolah bertaraf internasional. Asumsi yang muncul dalam persepsi tentang sekolah bertaraf internasional adalah sekolah dengan standar mutu terbaik.
Pada sekolah berbasis internasional, peran guru tidak lagi sentral. Sebagaimana yang terjadi selama ini, posisi dan peran guru sebagai penyalur ilmu sebanyak-banyaknya kepada siswa. Dalam sekolah standar internasional, digunakan sistem "Student Based Learnedâ€. Guru hanya bertindak mengarahkan para siswa tanpa mengajari terlalu banyak materi.( http://hadori.multiply.com/reviews/item/3). Dengan program ini, siswa dapat memecahkan masalah mereka sendiri. Di samping itu, bahasa yang dipakai adalah bahasa inggris, sehingga peserta didik bisa mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris.
Sekolah bertaraf internasional tidaklah sepi dari problem. Banyak masalah yang akan dihadapi. Mulai dari kualitas guru, fasilitas, dan administrasi yang harus jelas dan rapi.
Pertama, tentang guru. Kita tahu bahwa sekolah bertaraf internasional membutuhkan guru yang profesinal dan tentu saja dapat berkomunikasi dan mengkomunikasikan mata pelajaran dalam Bahasa Inggris (http://abudira.wordpress.com/2009/07/20/quo-vadis-sekolah-berstandar-internasional). Persoalan guru menjadi porsi utama. Selama ini kondisi guru sebagai pengampu kelas di sekolah internasional diragukan dapat berkomunikasi sekaligus mengkomunikasikan mata pelajaran dalam Bahasa Inggris. Karena itu, sekolah bertaraf internasional membutuhkan guru yang memiliki standar kompetensi dan kualifikas professional yang lebih memadai.
Kedua, persoalan fasilitas. Sekolah tersebut membutuhkan banyak fasilitas yang mendukung terwujudnya sekolah berbasis internasional. Tentu saja, dibutuhkan banyak sekali biaya. Dan hingga sekarang ini, Indonesia tidak memiliki banyak alokasi dana untuk mendukung hal tersebut. Jadi pada kenyataannya, fasilitas yang tersedia hanyalah seadanya.
Ketiga, ini juga berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sekolah tersebut mensyaratkan administrasi pengelolaan yang jelas dan rapi.
Sekarang, kita dapat berpikir bahwa sekolah berbasis internasional sangatlah penting untuk membentuk jiwa siswa yang kreatif dan aktif. Ini juga karena sekolah internasional di luar negeri memiliki lulusan yang handal dan telah menyelesaikan risetnya. Meskipun banyak sekali masalah yang harus ditaklukkan, namun semua itu akan teratasi dengan usaha kita untuk berbuat lebih baik. Semoga mimpi sekolah internasional bisa terwujud.
|
Comments
RSS feed for comments to this post.